[Story] Khansa Sakit part 1

Semuanya berawal ketika Khansa mengalami panas/demam tinggi pada Rabu siang di sekolahnya, di mana ketika itu ibu Guru menyarankan Khansa untuk beristirahat di klinik sekolah. Ya, sekolah Khansa memang memiliki klinik kesehatan sendiri untuk dimanfaatkan para siswa, guru dan orangtua. Karena memang biasanya Khansa suka sakit panas, maka kami hanya memberikan obat² standar penurun panas, termasuk ramuan jahe kunyit yang baik untuk mendinginkan pencernaan. Eh, kok ya sampai hari Jumat tidak reda juga, maka kami pun sepakat untuk memeriksakan Khansa ke dokter anak di RS Cinere pada hari Sabtunya.

Sabtu pagi, kami semua berangkat ke Cinere. Tidak lupa berdoa sepanjang jalan mengingat mobil kami, si Jojo, sudah lama tidak diservis dengan layak. Alhamdulillah, walopun sedikit macet, kami tiba dengan selamat di sana. Supaya cepat, sampai di lobi, Khansa, Ai dan mamanya turun duluan untuk mendaftar, sedangkan gw mencari parkir yang seperti biasa kalo hari Sabtu, pelataran parkirnya seringkali SOLD OUT :p Yah, emang rejeki kagak kemana, akhirnya dapet juga parkir walopun di pojokan deket warung yang nampaknya sudah siang namun belum juga buka.

Abis parkir, gw bawa bekal biskuit untuk cemilan iseng. Sampe di dalem, ternyata Khansa udah duduk² menunggu panggilan. Karena ternyata belum dipanggil juga, mama Khansa minta dibelikan cemilan berupa kacang koro bali yang pernah dilihatnya di Koperasi RS Cinere di lantai 5. Yawda, gw dan Ai pun jalan² ke atas untuk mencarinya. Sampai di atas, gw pun beli kacang koro yang ada di sana. Turun lagi ke tempat nunggu dan ternyata cemilan yg gw beli SALAH! Hmm.. Gak mau ngecewain, gw ajak Ai lagi ke atas untuk mencari yang diinginkan. Sesuai deskripsi, kacang koro bali berwarna putih sudah dikupas dan tinggal dinikmati. Sampe di atas, biar nggak salah, gw nanya sama penjaga Koperasinya, apa ada kacang koro bali seperti dimaksud. Ternyata nggak ada, tapi emang dasarnya pengen jajan x ya? Gw nekad beli kacang bogor + keripik/sale pisang manis :p Dan benar! Sampe di bawah, kacang yg gw beli masih SALAH :p Yawda lah.. Belon rejeki bini gw x ya.. :p

Gak lama setelah itu, giliran Khansa dipanggil untuk diperiksa. Sementara Khansa diperiksa, Ai sibuk sendiri dengan berbagai mainan di ruang periksa dokternya :p Sambil nemenin Ai main, gw dengerin penjelasan dokter yang menganalisa panas tingginya Khansa kemungkinan berasal dari sariawan yang memenuhi tenggorokannya :'( Kemudian ibu dokter memberikan resep yang fungsinya untuk menyembuhkan sariawan, ada puyer untuk mual dan batuk juga, serta antibiotik. Gw baru tau kalo sekarang sistem antrian di RS Cinere sudah demikian rapi, nggak ada lagi srabat-srobot antrian karena sudah ada tiket antrian otomatis seperti di CS² provider telekomunikasi selular :) Yawda, gw segera ambil antrian untuk tebus resep di apotek dalem situ, Khansa, Ai dan mamanya nunggu di kursi deket kasir. Abis setor resep, gw balik ke kasir untuk bayar semua biayanya. Sebelum ke kasir ya ambil tiket antrian lagi :) Gak pake lama juga karena kasirnya ada 4 loket, gw pun bayar lalu kembali ke tempat tunggu depan apotek untuk menunggu panggilan pengambilan obat Khansa. Nah, pas ini agak lama nunggunya karena obat Khansa kebanyakan model puyer yg harus diracik dulu oleh apotekernya. Bahkan, Ai sempet²nya makan siang bekal yang memang sudah disiapkan dari rumah :p Sedangkan gw terpaksa nahan laper sambil makan cemilan yang dibeli tadi. Kelar ngambil obat, udah deh, kami pun pulang ke rumah dengan harapan Khansa bisa istirahat dengan optimal supaya cepat sembuh.

>> bersambung >>

Liburan Akhir Tahun ke Jember, Jawa Timur

Akhir tahun kemarin, gw sekeluarga akhirnya bisa pulang kampung untuk pertama kalinya dalam 8 tahun terakhir. Apa? 8 tahun? Ya, benar. 8 tahun gw nggak pulang ke kampung karena kesibukan di Jakarta. Gw yg pekerja televisi ini agak sulit untuk mencari waktu yang agak lapang demi bisa mengambil cuti. Alhamdulillah, semuanya sudah terlaksana.


Awalnya kami berangkat dari Gambir, Jakarta pada tanggal 22 Desember 2012, menggunakan jasa angkutan kereta Bima menuju stasiun Surabaya - Gubeng. Kekhawatiran kami mengenai anak² kami yang belum pernah melakukan perjalanan jauh tidak terjadi. Bahkan si kecil tidak henti²nya mondar-mandir antara tempat duduk gw dan ibunya. Ya, kami membeli 4 tiket kereta untuk perjalanan ini agar leluasa dalam mengatur posisi :) Kenapa Bima? Bokap gw bilang, kalo pake Bima, nanti turunnya di Gubeng, dari sana, lanjut kereta yang menuju kampung gw, Jember. Jadi nggak perlu lagi pindah stasiun seperti halnya jika kami menggunakan kereta Argo Bromo. Perjalanan menuju Jember terasa cukup singkat, entah, padahal gw udah jarang pulang. Berangkat dari Gambir pukul 6 sore, sampai Gubeng pukul 7 pagi, lalu kereta Mutiara Timur yg membawa kami ke Jember berangkat pukul 9 pagi, dan sampai di kota Jember pada pukul 1.30 siang.

Sampai di Jember, ternyata kami dijemput oleh bokap dan adik ipar gw pake mobil. Yawda, rencana mo naik taksi atau becak terpaksa batal dengan sendirinya :) Bokap gw langsung aja menghampiri kedua cucunya, anak² gw. Apalagi yang kecil memang sedang menggemaskan :) Baru mau jalan dari stasiun, mobil susah dihidupkan, terpaksa minta bantuan untuk dorong sedikit, gw juga termasuk yg bantuin, olahraga dikit karena duduk di kereta bikin badan pegel juga :p Sampai di rumah, kami langsung menyebarkan bawaan kami, koper dan lain². Sayang sekali, tidak ada oleh² yg bisa kami bawa dari Jakarta karena waktu kami pesan oleh², ada minimum order yg tidak diinformasikan kepada kami. Batal deh bawa oleh² :( Kami langsung pada mandi, dan tadinya pengen istirahat, tapi anak² kami langsung bermain bersama sodara²nya, ponakan kami, anak dari adik gw yg ragil.


Esok paginya, kami dikejutkan dengan sarapan sederhana, pecel! Memang, pecel merupakan salah satu makanan yang gw kangenin.. Kenapa? karena rasa pecel di Jember, berbeda dengan di Jakarta. Selepas sarapan, gw ikut bokap ke pasar, membeli bahan masakan supaya bini gw dan nyokap ada bahan buat dijadiin makanan kami. Abis dari pasar, kami mandi dan merencakan pergi ke toserba/swalayan yang kami pikir lengkap, bersama adik ipar sebagai driver dan keluarganya. Peralatan yg ingin dicari adalah sapu dan pengepelan dengan merk tertentu. Awalnya kami cari di alfa, tapi nggak ketemu. Lalu pindah ke Roxy, swalayan baru masih di deket situ. Alhamdulillah, merk yg dicari ketemu, tapi nambah perabotan masak lain yg nampak lucu namun berguna :p Abis bayar di kasir yg ngantrinya ajib banget, kami menuju taman bermain dimana ponakan gw lagi main di sana. Karena ponakan gw yg kecil, si Sekar, kakinya neken tombol permainan joged yg lagi dimainin kakaknya, terpaksa berubah mode jadi vs. Alhasil, gw diminta main bersama ponakan gw yg besar, mbak Laras :p Sambil gendong Ai, gempor juga gw main jogedan sama Laras (*permainan Dance² Revolution). Karena udah capek, dari sana kami pun kembali menuju rumah.


Di tengah perjalanan, kami lupa jika kami belum makan siang, akhirnya kami mampir ke tempat makan siang semasa gw sekolah di SMA, gado² pak Endut :p Kami sampai di lokasi persis sebelum hujan deras melanda, alhasil kami makan di tengah hujan yg cukup deras. Untung tenda pak Endut cukup luas untuk menampung kami semua. Di sini kami makan gado² dan juga soto ayam. Minumnya? Es degan!

Singkat cerita, selama di sana, kami tidak terlalu menjelajah karena kondisi mobil yang agak kurang sehat. Namun demikian, waktu kami merencanakan untuk pergi ke Tanjung Papuma, pak besan bersedia meminjamkan mobilnya untuk kami bisa berangkat ke sana, hore! Rencana tsb akhirnya dilaksanakan pada hari Sabtu, dimana paginya kami ambil mobil dulu di rumah pak besan, lalu membawanya kembali ke rumah. Emang dasar niatnya piknik kali ya? Segala makanan kami bawa untuk bekal makan siang di sana, tidak lupa tikar yang lebar juga dibawa. Alhamdulillah, perjalanan pagi itu lancar, hanya saja ketika mobil harus mendaki bukit untuk menuju lokasi, gw agak grogi juga karena kopling mobil terasa keras ketika harus memindahkan gigi persneling. untung, mesin mobil tidak mati ketika harus menanjak :)


Akhirnya kami tiba di lokasi, pantai tanjung papuma! Setelah menurunkan barang bawaan, dan gelar tikar, para bocah langsung berlarian menuju bibir pantai untuk bermain air! Sekar, ponakanku yang kecil, langsung aja tiduran seolah menyambut ombak yang datang :p Karena ombaknya besar, mengingat ini pantai selatan, maka para bocah hanya bermain pasir sambil basah²an. Seru sekali melihat mereka bermain, jadi inget masa kecil gw yang dulu juga paling seneng main pasir di pantai. Cukup lama mereka bermain, para ibu juga sesekali ikut bermain bersama mereka, sedangkan gw lebih banyak duduk² sambil motret sana-sini (*sok fotografer :p). Lepas bermain, mereka membersihkan diri di kamar mandi umum di dekat lahan parkir. Nungguin mereka kelar, lalu kami makan siang karena lapar. Nikmat terasa makan siang di pantai sembari ngunyah dan memandang laut lepas diterpa silir angin. Nikmat mungkin karena ada pete rebus di menu makanan yang kami bawa (*eaaa).


Udah pada kenyang, para ibu dan bocah penasaran sama kapal, eh pada mo nyobain naik kapal. Ongkosnya standar, 15rb per orang, dan ternyata rute muternya jauh juga :) Akhirnya mereka pada naik kapal, hanya gw dan Ai yang nggak ikutan. Kami hanya menanti di pinggir pantai, sambil foto². Ternyata, ada beberapa pulau di sekitar tanjung situ yang digunakan sebagai lokasi memancing bagi beberapa orang, lalu ada juga gua kelelawar, serta pantai berpasir putih yg posisinya tersembunyi karena diapit 2 bukit karang. Orang bisa aja lewat ke situ, tapi karena karang yg terjal + ombak yg kuat, jalur menuju ke sana diberi tanda pita kuning (*police line). Abis pada naik kapal, kami pun pulang ke rumah. Eh, kok ya pas pulang, hujan mulai turun dengan lebatnya. Sangat lebat sampai jarak pandang kami terbatas adanya. Dan di saat itu juga, masih banyak mobil pengunjung yang baru datang ke lokasi.


Hari berikutnya, wisata kuliner ke alun-alun kota Jember, dimana setiap hari Minggu pagi, ada pasar kaget :) Yang ditawarkan di sana bermacam², sepintas sama aja dengan pasar kaget di Jakarta, tapi ternyata, mbak Laras, ponakanku yg besar, udah punya langganan kuliner di sana. Sate laler pak Umar :p Yawda, kami menuju lokasi, sembari clingak-clinguk, gw nebus sekotak kue lekker, semacam martabak tipis dengan pisang dan coklat susu di dalamnya. Anak²ku membeli cincin mainan. Sembari santai, kami menyantap sate ayam ala laler tsb dengan nikmat. Kapan lagi menikmati rasa makanan khas Jember?

Selama ± 10 hari kami di sana, cukuplah untuk mengobati rasa kangen gw terhadap kampung halaman gw. Jalan² pake motor ke kompleks perumahan BPKP tempat kami tinggal saat masih kecil dulu, melihat ex kantor BPKP Perwakilan Jember yang kini tidak terawat lagi. Melihat dengan takjub, sekolah kami yang dulu tampak sederhana, kini jadi megah menggelora. 

Malam tahun baru kami lewati dengan biasa saja. Padahal tadinya mo liat kembang api atau apalah di alun². Sayang, anak² kami sudah keburu tidur karena capek. Yawda, tidur agak larut melewatkan momen tahun baru dengan menonton film di TV bersama istri. Seperti biasa, bokap nyokap gw kalo dah jam 9 malem udah pada tidur, walopun suka kebangun malemnya untuk solat.


Waktu berlalu begitu cepat, gak terasa udah tanggal 2 Januari 2013, hari dimana kami harus kembali ke Jakarta. Alhamdulillah, mobil sudah sehat sehingga bisa mengantarkan kami ke stasiun kereta. Berat hati ini berpisah dengan orangtua, dengan suasana kota kelahiran yang terasa begitu hangat dan nyaman. Namun kewajiban tetap harus dijalankan. Gw punya tanggungjawab di kantor yang nggak bisa gw tinggalkan begitu saja. Akhirnya, sampai jumpa lagi Jember. Suatu saat nanti, aku kan kembali..

[review] Zetman - anime


Anime ini menceritakan tentang manusia yang telah direkayasa secara genetika dan digunakan untuk hiburan pertarungan underworld. Manusia mutan ini dinamakan Player, karena ketika berubah wujud, bukan lagi menyerupai manusia, namun lebih mirip monster, dan insting yg berlaku adalah bertarung hingga mati.
Cerita berawal dari diselamatkannya seorang anak oleh Profesor Kanzaki, dimana anak itu merupakan hasil rekayasa genetika yang mengalami kegagalan pada N-factornya. Mereka pergi dari laboratorium, dan menyembunyikan diri dari pencarian pihak laboratorium. Dalam kehidupan awalnya, sang anak yang bernama Jin Kanzaki, senantiasa diberikan pemahaman tentang budi pekerti dan ahlak yang baik, selayaknya kehidupan seorang anak manusia pada umumnya. Namun dalam kesehariannya, Jin yg memiliki kelebihan dalam pertarungan, selalu membantu orang yang kesusahan/dalam bahaya karena dipepet preman, dengan meminta bayaran kepada orang yang ditolongnya sebesar 10,000 yen. Dalam aksinya, Jin selalu dikuntit oleh Kouga dan adiknya Konoha. Mereka selalu beranggapan bahwa mereka adalah tim pembasmi kejahatan, hingga pada suatu ketika alat komunikasi yang mereka gunakan dirampas dan dihancurkan oleh ayah Kouga.
Waktu berlalu, mereka tumbuh menjadi remaja. Jin masih tetap seperti yang dulu, membantu orang yang kesusahan dengan meminta imbalan. Kouga di lain pihak, akan menjadi penerus perusahaan Amagi yang dipimpin oleh ayahnya. Kouga belum mengetahui bahwa Amagi adalah pihak yang bertanggung jawab dalam merekayasa manusia menjadi Player. Pada suatu hari, korban para Player makin berjatuhan, ada yg jadi musnah jadi pasir, ada yang tewas terbelah dll. Tanpa sengaja, dalam memburu Player, Jin dan Kouga dipertemukan kembali. Jin sudah bisa berubah menjadi sosok manusia super, sedangkan Kouga masih dengan jubah superheronya. Mereka berdua bahu-membahu menolong sekeluarga yang terjebak dalam suatu kebakaran di lokasi pertarungan antara Jin dengan Player.
Siapa sebenarnya Jin? Mengapa dia bisa berubah menjadi sosok manusia super? Apa alasan dibuatnya Jin sebagai manusia super? Siapa pula EVOL? Mengapa mereka memusuhi manusia? Jawabannya dapat diketahui setelah menonton serial anime sepanjang 13 episode ini.
Impresi gw setelah menonton anime ini adalah, anime ini tidak ditujukan bagi kalian yang berusia di bawah 17 tahun. Dari sisi cerita, Zetman mampu memberikan plot dan gambaran animasi yang senantiasa membuat penasaran dalam setiap episode-nya dengan tingkat kesadisan yang masih dalam batas kewajaran, beda dengan Gantz :) Rate 8/10!

Leading with (His Own) Style

Belum lama ini, ibukota negeri ini memiliki seorang pemimpin baru, seorang Gubernur yang dipercaya oleh rakyat pemilih DKI, untuk membuat perubahan bagi Jakarta. Ya, demikianlah harapan bagi hampir seluruh masyarakat Jakarta tentang kotanya. Berbagai masalah senantiasa hadir dalam berbagai rupa. Macet, banjir, kriminalitas, sampah, listrik, birokrasi dan lain-lain.

Gubernur yang satu ini, memang berbeda dari Gubernur sebelum-sebelumnya. Beliau gemar sekali turun ke masyarakat. Walapun sebagian orang mencibir beliau dengan predikat 'pencitraan', namun hal yang dilakukan secara biasa oleh beliau di masa kepemimpinan sebelumnya, membuat hal ini jauh dari sekedar pencitraan. Ada yang bilang, bukan jobdesk Gubernur untuk turun langsung dan melakukan beberapa hal kecil di level bawah. Namun yg gw yakin, siapapun orangnya, apapun bidang pekerjaannya. Segala hal yang biasa kita lakukan, dari hal kecil, dari level yang paling bawah, akan selalu memberikan warna bagi apa yang akan kita lakukan di masa mendatang. Itu bukan sekedar citra yang dibuat-buat, tapi sudah merupakan trademark yang tidak akan mudah untuk dilupakan.


Kekuatan Gubernur atau pemimpin masyarakat yang turun langsung ke tengah problematika kehidupan bermasyarakat di ibukota adalah, ketika beliau menemukan pokok permasalahannya, dan mendapatkan solusinya, beliau tinggal memberikan instruksi kepada bawahannya untuk melakukan beberapa tindakan² yang diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut. Hal ini akan berbeda hasilnya jika pemimpin hanya menerima laporan dari bawahannya saja, tanpa sekalipun pernah merasakan segala permasalahan yang ada. Pemimpin yang baik akan selalu memberikan contoh melalui perbuatannya, baik secara disengaja, maupun tidak disengaja. Karena pemimpin yang lahir dari bawah, yang pernah melakukan hal² kecil yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidupnya, tidak akan sama dengan pemimpin yang lahir dari 'membeli' kekuasaan, yang lahir dari jalan pintas, yang mengetahui adanya masalah melalui laporan² dan catatan² yang dia sendiri tidak pernah mencari tau kebenarannya dan merasakan sendiri masalahnya.

Dari beberapa kali kunjungan beliau ke tempat² tertentu di pelosok Jakarta, beliau akhirnya menemukan konsep pemecahan untuk beberapa permasalahan yang ada. Memang, masih berupa konsep yang masih harus dipelajari, namun gw yakin, dengan besarnya harapan masyarakat terhadap beliau, tentu masyarakat sendiri akan ikut bekerja sama dalam mewujudkan hal tersebut, demi kenyamanan bersama tinggal di ibukota.

Ada satu dua orang yang mencibir, bahwa beliau hanya pencitraan, lebay dan lain². Apakah salah jika seorang pemimpin melakukan hal² sederhana untuk memperbaiki hal² yang tidak patut yang dia lihat di depan matanya saat itu? Dan memang terbukti, banyak orang yg gede bacotnya, tapi nihil aksinya dalam memperbaiki kehidupan bermasyarakatnya, ibarat tong kosong nyaring bunyinya. Mereka tidak lebih baik daripada yang dicibir :)

Akhirnya, gw ucapkan selamat bekerja pemimpin kami, jadikan Jakarta jadi tempat yang lebih manusiawi. Libatkan kami, masyarakat Jakarta, dalam memperbaiki lingkungan kami, kehidupan bermasyarakat kami, demi masa depan yang lebih harmoni. Aamiin~