Peluncuran Jagat Sinema Bumilangit Jilid 1 Menandai Hidupnya Superhero Indonesia

Hari ini, 18 Agustus 2019, Screenplay Bumilangit resmi mengumumkan peluncuran Jagat Sinema Bumilangit Jilid 1. Beberapa tahun ke depan ...

Hafiz Sakit!


Lanjut kisah sebelumnya, yaitu ketika kami sedang sowan ke rumah besan, tiba-tiba keponakanku yang paling kecil panas. Langsung saja orangtuanya membawa si kecil Hafiz ke RS terdekat untuk mendapatkan pertolongan. Mungkin ini ada hubungannya dengan piknik kemarin ke Pantai Payangan, naik ke Bukit Domba di cuaca yang panas terik, si bocah ini mengalami sedikit dehidrasi.


Di RS, bocah mungil ini langsung diberi infus untuk menurunkan panasnya. Hampir setiap hari, kami menjenguk bocah ini, sekadar melihat keadaannya saat ini, sembari berharap semuanya akan segera pulih. Sayang, saya nggak bisa setiap hari ikut menengok karena kebagian tugas sebagai panitia reuni SMP.


Gak cuma saya yang senang punya keponakan baru, apalagi laki-laki. Sesungguhnya hati ini ingin punya anak lelaki sendiri, namun apa daya.. Kami terlambat berencana :) Mbah Akung Jember pun sangat gembira bisa bermain dengan cucu lelaki terkecilnya ini. Ya memang, Hafiz sedang lucu-lucunya.

Hafiz ini punya kebiasaan unik, ngemut/ngempeng boneka tangan kesayangannya. Kalo nggak ada ini, bisa nangis dia seharian.



Hafiz dirawat di RS Bina Sehat sampai pada hari kami mesti kembali ke Jakarta. Alhamdulillah, sekarang sudah kembali sehat seperti sediakala, namun mesti dijaga supaya nggak terpapar panas yang berlebihan. Sehat terus ya adek Hafiz, pakde masih kangen..

(bersambung..)


Hari Raya Fitri 1439H di Jember Bersama Keluarga


Hari Raya Fitri telah tiba. Kami semua bangun sangat pagi, berteman dengan air bak mandi yang terasa dingin, untuk membersihkan diri, bersiap menuju masjid di belakang rumah kami. Kali ini, kami nggak sholat Id di masjid yang jauh, mengingat papa dan mamaku sudah kesulitan untuk berjalan jauh. Tapi hal ini nggak mengurangi rasa khidmat kami terhadap datangnya Hari Raya.


Ternyata, masjidnya sudah ramai. Beruntung saya masih kebagian tempat walau mesti di bagian belakang. Orang sini ternyata bangunnya pagi-pagi sangat. Sungguh hebat. materi khutbahnya cukup menarik, bahwa hari raya Fitri sebaiknya digunakan untuk silaturohim dengan sanak kerabat, baik dekat maupun yang agak jauh, jangan dimanfaatkan untuk maksiat, piknik ke tempat wisata misalnya. Tapi ya, pikiran saya mah, kalo pikniknya abis keliling, kenapa nggak? Kan sekeluarga juga. Wallahu a'lam bisshowab.

Turun dari masjid, kami bersilaturohim sejenak dengan tetangga sekitar, lalu kembali ke rumah untuk kumpul keluarga. Sambil menunggu keluarga adikku yang lelaki, saya sempatkan foto-foto duluan.




Dan akhirnya seluruh keluarga berkumpul di ruang tengah untuk foto bareng secara kolosal. Ajib, kolosal kayak Brama Kumbara :)


Abis kumpul foto, tentunya kita makan. Sembari sesekali menerima tamu yang hadir silih berganti di ruang tamu. Mau tau menu masakannya seperti apa? Ini dia..


Favoritku adalah telor petis, nyamm. 

Setelah itu, siangnya, kami sowan ke rumah besan, mertuanya adikku yang perempuan. Di sana rumahnya punya halaman cukup luas. Cucu lelaki bisa bermain bola di halaman.


Pada hari ini, kami terhenyak karena mendadak ponakan lelaki yang paling kecil, Hafiz, sakit panas nyaris step, sehingga mesti dibawa ke RS terdekat.

(bersambung..)


Antara Basket, Cangkruk dan Nasi Goreng


Waktu di Jember, adikku sempat janjian mau sparring dengan tim basket profesional kota Jember. Tim yang dibentuk oleh adikku dan teman-temannya bernama Sketsa, singkatan dari Basket Smasa. Ya, mereka adalah tim basket SMA Satu, terbaik di jamannya.


Jangan tanyakan perbedaan skor yang terjadi, karena tim yang bermain dengan semangat mencari nafkah, akan berbeda dengan tim yang bermain dengan semangat mencari keringat.

Setelah menonton adikku dan timnya bermain, saya dan adik ipar sekeluarga segera menuju ke lokasi cangkruk, di mana teman-teman masa sekolah dulu berkumpul. Di sebuah warung nasi goreng yang dikelola Cak Agus, teman SMP saya dulu. Lokasinya nggak jauh dari RS. Bina Sehat, sepertinya lokasi yang cocok untuk penunggu pasien saat kelaparan di malam hari.


Nasi goreng yang dijual Cak Agus tergolong spesial karena menggunakan ati di dalamnya. Khusus permintaan saya, dikasih potongan pete. Nasi goreng Cak Agus ini bumbunya terasa sekali, bahkan istri saya yang seorang Chef juga mengakui jika nasi goreng Cak Agus ini enak. Harganya? Menurut informasi yang valid, per porsinya dihargai senilai 12 ribu rupiah saja. Sangat murah untuk citarasa yang berkelas, walau lokasinya di pinggir jalan. Beda sama nasi goreng gerobak di kawasan bisnis di Jakarta yang rasanya kadang nggak sesuai harapan.

Abis makan sambil ngobrol bersama teman-teman, saya pamit karena keesokan harinya, mau diajak ke pantai Payangan. Sampai jumpa di acara reuni, teman-teman..


Lokasi pantai Payangan kurang lebih sejauh 33 kilometer dari pusat kota Jember.


Waktu tempuh kami kurang lebih selama setengah jam saja. Kami berangkat dengan 2 mobil karena membawa 3 keluarga, termasuk Mbah Akung yang kepengen ikutan. Sampai di sana, mobil diparkir di tempat parkir khusus, lalu kami berjalan menuju pantai, tepatnya pantai sebelah bukit Domba.


Walau sekilas nampak tenang, namun ombak di pantai ini terkadang menyapu jauh hingga ke daratan. Bahkan dalam satu kesempatan, sebuah ombak yang kencang menyapu pantai, hingga ponakan kami yang kecil terhempas dan gelagepan. Beruntung, masih bisa diselamatkan. Akibat kejadian tersebut, kami segera berganti rencana, mendaki bukit Domba untuk melihat pantai dari ketinggian.


Untuk bisa menaiki bukit ini, kita dikenakan biaya 5000 rupiah per orang. Kami rombongan ber-8. Bocah-bocah bersemangat tinggi mendaki hingga ke puncak, tanpa melihat tanda panah kemana arah mesti dilalui. Alhasil, kami tersasar ke sebuah bukit yang di puncaknya ada makamnya.


Bukan puncak bukit ini yang kami maksud. Akhirnya kami turun lagi, dan mencari jalan ke bukit yang kami tuju, yaitu bukit yang berada paling ujung di dekat pantai. Setelah berjalan menuruni lereng dan kemudian naik lagi, akhirnya kami sampai juga di bukit tujuan.


Di sini anginnya kencang sekali. Rasanya seperti doyong mau jatuh. Tapi memang pemandangannya super sekali, indah tiada tara. Apalagi kami datang persis hari terakhir puasa, panas dan keringnya tenggorokan tiada kami rasakan lagi. Apalagi, tempatnya masih tergolong sepi karena wisatawan belum banyak hadir di sini.


Untung di atas bukit, ada gubuk yang bisa digunakan untuk berteduh. Jadi walau panas, angin yang kencang membuat kami tidak merasa kepanasan, bahkan cenderung rawan masuk angin.


Untuk jalur turun, dibedakan dengan jalur naik. Mungkin supaya nggak terjadi kemacetan, mengingat beberapa tanjakan terasa sangat terjal dan curam. Kerennya lagi, tangga untuk jalur turun diberi warna-warni sehingga nampak berbeda dan menarik.





Di bagian bawah, setelah kita turun, jika kita belok ke kanan, kembali ke arah pantai, ada goa yang cukup menarik untuk disamperin, namun merinding juga saat ke sana sendirian.


Selesai dari sini, kami segera kembali ke mobil, untuk melanjutkan perjalanan, pulang kembali ke rumah..

(Bersambung..)

Jember, Kota Kelahiranku, Tempat Menempuh Ilmu Hingga SMU


Jadi, setelah kami sampai di Jember, kami beristirahat dahulu karena perjalanan yang lumayan jauh, dari Jakarta ke Jember. Anak-anak juga nampak lelah walau gembira. Karena hari itu masih puasa, maka sorenya, Mbah Akung mengajak Ai untuk cari bukaan, yaitu jus buah. Hmmm.. Segarnya..

Oiya, pas baru datang, ternyata saya dapat kiriman paket dari teman SMP yang baru terhubung kembali karena rencana reuni. Ya, saya dan kawan-kawan semasa SMP memang merencanakan untuk mengadakan reuni, yang tergolong cukup besar, setelah tidak berjumpa selama kurang lebih 27 tahun lamanya. Paketnya itu isinya apa ya? Penasaran banget karena orangtuaku juga enggan untuk membukanya, sebelum saya tiba di sana.


Ini dia isinya, yaitu cemilan rempeyek kacang dari Blitar. Terima kasih bu dokter Yiyin. Maafkan bisa saya lupa wajahnya yang mana semasa SMP dulu, karena sekarang jauh berbeda. Selain peyek, masih ada bonusnya juga lho, yaitu bumbu kacang/pecel dengan 2 varian kepedasan.


Seperti biasa, jika saya merencanakan mudik atau liburan ke Jember, saya enggan sekali cepat kembali ke Jakarta. Suasana kampung halaman yang selalu dirindukan, ada di sana.


Karena saya adalah rombongan yang pertama tiba, sedangkan keluarga adik-adik yang lain belum, maka esok harinya kami diajak ke Roxy untuk belanja keperluan Lebaran. Dan yang bikin takjub adalah, belanja segitu banyaknya, total yang mesti dibayarkan nggak seperti di bayangan kami. Jika di Jakarta, taksiran kami sudah keluar 700 ribuan rupiah. Kemarin nggak sampai segitu. Ajib.

Kegiatan kami masih standar saja, nggak banyak keluar rumah, karena saya juga diminta jadi panitia reuni. Keesokan harinya, sekitar pukul 2 siang, saya diminta hadir di rumah salah seorang panitia, utnuk menyeleksi foto-foto dan mentransfer video yang sudah diambil, untuk dijadikan materi video presentasi di acara reuni besok. Masih dari koleksi pribadi yang dimiliki oleh rekan saya saja. Sedangkan untuk materi yang berasal dari seluruh kawan-kawan semasa SMP, dikirim melalui WhatsApp. Bersyukur, koneksi XL Axiata di Jember sekarang sudah jauh lebih baik, sehingga proses kirim dan terima materi dapat dipersingkat.

Menjelang waktu berbuka puasa, kami diajak untuk menuju tempat makan yang sudah direncanakan, sambil niatnya sholat Maghrib di Masjid Al-Muhlisin yang jika dilihat sangat IG-able. Sayang, saat kita lewat di sana, parkiran mobilnya penuh dan tidak memungkinkan untuk singgah. Yupp! May be next time.


Akhirnya, kami langsung meluncur ke sebuah tempat makan khas masakan dari Makassar, yaitu Depot Amalia. Di sini kami memesan beberapa menu yang jadi andalan mereka. Apa saja itu? Ini dia!




Walau tampak sedikit, namun aslinya porsinya banyak. Satu menu saja bisa dikeroyok oleh 2-3 orang. Dan saya termasuk yang kalau buka puasa, cukup minum air saja. Hehehe.. Untuk rasa, makanannya, saya suka dengan semua menu yang disajikan, ada sop konro serta coto Makassar. Di sini, masih ada beberapa rekan lain yang bergabung.


Setelah kelar makan, kami pindah lokasi. Rencana kami adalah menuju alun-alun kota Jember, untuk bertemu dengan rekan blogger di Jember, yaitu mas Faisol. Dapat parkir di depan kantor Bupati Jember, kami berjalan menuju tiang bendera, dan menunggu Faisol di sana. Alhamdulillah, nggak pake lama, Faisol dapat segera ditemukan. Lalu posisi kami pun pindah lagi, yaitu menuju kedai Es Bogel di sebelah Bank Mandiri.


Di kedai, kami memesan es kacang hijau andalan sejak masa kami masih sekolah. Oya, Faisol ini blogger muda di Jember, masih 16 tahun usianya. Dia aslinya Situbondo, namun sekolahnya di Jember. Prestasi menulisnya tergolong baik, bahkan namanya terdengar cukup santer di kalangan blogger ibukota. Daebak!

Nggak lama, teman kami, mbak Nunung pamit duluan. Dia enggan pulang terlalu malam. Sedangkan kami, sisanya, memang seakan ingin menjelajahi malam di tengah alun-alun kota Jember yang sekarang ramai. Kami kembali ke arah masjid Jami' untuk mengambil beberapa foto malam dengan menggunakan smartphone kami masing-masing. Sekalian ngetes ceritanya.



Setelah lelah berdiri, kami melipir ke sudut tempat bermain anak-anak, yang malam itu juga masih ramai oleh orang-orang. Momennya pas banget sama job yang sedang kami dapatkan, promosi koppa. Koppa ini adalah biji kopi yang dibalut dengan coklat, solusi praktis untuk bikin melek. Jeprat-jepret sebutuhnya, kami pun mlipir lagi ke arah warung lesehan. Di bagian sini, ada bangku yang kami rasa cukup IG-able, namun ternyata cahaya lampunya terlalu keras, sehingga apa yang kami bayangkan tidak sesuai dengan kenyataan.


Malam mulai larut, namun tidak mengurangi keramaiannya. Saya yang sengaja ngebolang, tanpa aplikasi transportasi online, segera mencari cara untuk bisa pulang dengan senang. Saya bilang, saya ingin naik becak. Lalu kami segera menuju ke arah SMP 2 Jember. Kata Faisol, di sana banyak tukang becak nongkrong. Kami berjalan melewati Lembaga Pemasyarakatan, dengan pintu besar bertuliskan Pintu Taubat di depannya.


Dan memang benar saja, masih ada tukang becak yang berkumpul menunggu untuk dimanfaatkan. Setelah mendapatkan satu, saya pun berpamitan dengan teman-teman lain, karena mereka berencana memanfaatkan ojek online untuk pulang ke rumah masing-masing.

(bersambung..)

Libur Lebaran Ke Jember (Keberangkatan)


Libur telah tiba! Eits.. Tunggu dulu. Ternyata anakku yang kecil belum libur sekolahnya. Waduh! Bahaya ini. Tiket mudik dengan kereta sudah ada di tangan, masa sih harus dibatalkan? Kenapa ini semua harus terjadi, di saat rencana mudik lebaran sudah dipastikan?

Begini ceritanya. Jadi ketika saya sedang tenggelam dalam kesibukan rutinitas pekerjaan, tiba-tiba adik yang di Bandung mengabarkan, tiket mudik sudah di tangan. Waduh?! Saya langsung auto gelagepan karena lupa kalau tiket kereta bisa dipesan 3 bulan di depan. Ya sudah, akhirnya koordinasi sama istri, mau pulang tanggal berapa. Awalnya incar tanggal 12, namun apa daya, yang tersedia ada di tanggal 7. Diskusi sejenak, akhirnya diputuskan ambil tiket tanggal 7 dari Jakarta menuju Surabaya, dan booking tiket tanggal 8 untuk perjalanan dari Surabaya ke Jember. Tiket mudik aman. Lalu bagaimana dengan tiket kembali ke Jakartanya? Untuk yang satu itu, terpaksa saya minta tolong bantuan orangtua di sana untuk bisa memesankannya untuk kami. Done! Tiket pulang dipastikan tanggal 18.


Oke, sementara aman. Next grasak-grusuknya adalah, ketika istri saya mengabarkan, bahwa ujian SD berakhir pada tanggal 8. Wadaw! Deg-degan lagi deh. Gimana caranya itu ujian bocah bisa lempeng sampai tanggal 8, sedangkan tanggal 7 kita sudah harus berangkat mudik? Terpaksa pakai cara melobi guru dan kepala sekolahnya. Beruntung, Ai, anakku yang SD, dianggap bisa mengikuti pelajaran, sehingga dijadwalkan, pada tanggal 7, dia akan menjalani 3 mata pelajaran untuk diujikan. Ya, Ai mesti ujian dulu di sekolahnya, lalu kami semua berangkat ke Stasiun Gambir pada pukul 2 siang, paling lambatnya.

Perjalanan dari rumah ke stasiun menggunakan taksi minibus, dan memakan waktu nyaris 2 jam perjalanan karena macet. Padahal jadwal keberangkatan kereta Bima yang akan kami tumpangi adalah pukul 16.30 WIB. Alhamdulillah, masih sempat duduk rehat sejenak. Oiya, sekarang untuk cetak tiket kereta, sudah bisa dilakukan secara mandiri. Paling cepat H-7 dari tanggal keberangkatan, dan mesti dilakukan di stasiun keberangkatan. Berbeda dengan 3 tahun lalu yang tiketnya sudah kami pegang duluan. Caranya mudah, tinggal datang ke booth cetak tiket, scan QR Code atau masukan kode booking, pilih semua nama yang muncul, lalu tekan Cetak Tiket. Tiket akan tercetak sesuai dengan pesanan. Selepas itu, siapkan KTP yang berlaku untuk masuk ke dalam peron. Di dalam peron, kami menunggu hingga ada panggilan bahwa kereta Bima sudah tiba.


Untuk bisa pulang ke Jember, kami selalu menggunakan moda transportasi kereta. Ada 2 jalur yang bisa dipilih, Argo Bromo Anggrek dengan tujuan Surabaya Pasar Turi, atau Bima dengan tujuan Surabaya Gubeng. Kami memilih menggunakan Bima, dengan pertimbangan tidak perlu pindah stasiun, karena kereta Mutiara Timur dengan tujuan Jember, akan berangkat dari Stasiun Gubeng. Apalagi, kami berempat membawa koper yang cukup besar dan akan merepotkan jika mesti pindah stasiun lagi. Jika memilih menggunakan kereta Bima, pastikan tanggal berangkat dari Jakarta, dan tanggal berangkat dari Surabaya, berbeda 1 hari, karena dari Jakarta berangkat sore, sampai di Surabaya keesokan paginya, dan dari Surabaya menuju Jember, diberangkatkan pada hari yang sama. Ini penting untuk diingat!

Untuk fasilitas di dalam gerbong keretanya sudah cukup baik, sejak mudik 3 tahun silam. Sudah ada colokan listrik sebanyak 2 buah di masing-masing tempat duduk, persis di bawah meja dekat jendela. Hal ini memudahkan kita untuk mengisi ulang baterai gawai atau powerbank.


Karena perjalanan masih di dalam bulan Ramadhan, ternyata disediakan sajian untuk berbuka puasa dari PT. KAI secara gratis. Wah! Ini bagus sekali. Sayang, karena baru tahu, bekal yang kami bawa jadi tidak tersentuh.


Isi menunya juga lumayan enak. Ada daging ayam dan sayuran, serta segelas air mineral. Selepas berbuka puasa, anakku yang kecil minta nonton film melalui smartphone, karena tayangan di televisi kereta tidak menarik perhatiannya.


Suhu di dalam gerbong kereta termasuk dingin, jadi bagi kalian yang bepergian, jangan lupa pakai sepatu dan jaket atau sweater. Bagi yang nggak tahan dingin, hidung bisa sakit/perih karena kedinginan.

Yeay! Sudah pagi! Kereta sudah memasuki wilayah Surabaya. Kami transit sejenak di Stasiun Surabay Gubeng, untuk menunggu kedatangan kereta Mutiara Timur yang akan membawa kami ke kota Jember pada pukul 9 pagi. Sebelum keretanya datang, kami sempatkan untuk rehat sejenak, karena semuanya masih pada puasa.


Pukul 9 pagi tepat, kereta Mutiara Timur sudah mulai bergerak menuju kota kelahiran saya. Estimasi waktu kedatangan di sana adalah pukul 1 siang. Kebetulan sudah koordinasi dengan orangtua, kami akan dijemput di depan Stasiun Jember. Bagaimana kisah liburan kami di Jember pada Lebaran tahun ini? Simak terus di blog saya ini ya..

(bersambung..)

Honor 7A Andalkan Face Unlock dan Desain Mempesona dengan Harga yang Menggoda


Di hari Senin yang terik kemarin, Honor Indonesia secara mendadak mengumumkan peluncuran smartphone barunya yang bernama Honor 7A. Sekilas, mungkin kita akan menebak bahwa Honor 7A ini adiknya Honor 7x. Hal ini tidak sepenuhnya salah, karena memang dari sudut spesifikasi dan penamaan, masih mengandung unsur 7. Namun jika kita menilik dari segi harganya, Honor 7A juga pantas disebut sebagai adiknya Honor 9 Lite.

Baca : Spesifikasi Honor 7A

Lalu, apa hal baru yang ditawarkan oleh Honor 7A ini bagi para penggemarnya di Indonesia?


Pertama adalah kameranya. Seperti pada smartphone Honor pendahulunya, kamera belakang Honor 7A mengadopsi sistem dual kamera, dengan kombinasi resolusi 13MP + 2MP untuk hasil foto yang sempurna, khususnya untuk mendapatkan efek bokeh yang alami. Kamera depannya memiliki resolusi 8MP, cukup memadai, namun kali ini dilengkapi dengan selfie toning. Apa itu selfie toning, yaitu semacam lampu led untuk menyinari wajah, agar tetap nampak cerah, dengan 3 tingkatan kecerahan cahaya. Cocok untuk selfie di tempat yang temaram atau rendah cahaya.

Yang kedua adalah Face Unlock. Teknologi keamanan terbaru ini biasanya hanya dapat dijumpai di smartphone kelas atas. Namun Honor tak ragu untuk menyematkan kemampuan ini di dalam smartphone besutan terbarunya, Honor 7A. Deteksi pengenalan wajah sebanyak 1.024 titik pada wajah, diyakini dapat menjamin keamanan smartphone dari pengguna iseng yang tak bertanggung jawab. Waktu yang diperlukan untuk membuka kunci smartphone melalui pengenalan wajah ini tidak sampai 1 detik. Selain itu, teknologi sensor sidik jari juga masih dipertahankan untuk akses cepat pada smartphone Honor 7A, jika wajah pengguna sedang penuh aksesoris seperti topi, syal atau kacamata.


Yang ketiga adalah desainnya. Honor 7A mengusung FullView Display seluas 5,7 inci dengan rasio 18:9 dan memiliki ketebalan hanya 78 mm saja. Memang, secara desain, Honor 7A saya akui lebih menarik dan lebih compact dibandingkan dengan Honor 7x, khususnya di bagian kamera belakangnya. Nih, lihat sendiri biar percaya.


Nah! Sekarang pertanyaannya adalah, Honor 7A ini bisa dibeli di mana? Dan berapa pula harganya?


Ibu Christin Djuarto selaku Direktur Shopee Indonesia menyatakan bahwa kerjasama Honor dengan Shopee sudah terjalin sejak pertama kali Honor meluncurkan smartphonenya. Hal ini ditandai dengan kesuksesan flash sale Honor 9 Lite di Shopee sebagai awal yang sangat baik. Oleh sebab itu, Honor 7A akan dapat dibeli secara online di Shopee Indonesia mulai tanggal 7 Juni 2018 pada pukul 12 siang. Dan inilah bocoran harga Honor 7A.


Honor 7A dijual dengan harga Rp. 1.899.000,- saja, tidak sampai 2 juta rupiah. Dan untuk menjawab kekhawatiran para pengguna smartphone Honor di Indonesia, sekalian diumumkan bahwa Honor Indonesia menggandeng Unicom sebagai Authorized Flagship Service Center mereka.


Lepas acara presentasi, saya segera mengantri untuk sekadar mencoba-coba Honor 7A. Seperti biasa, perhatian saya lebih tercurah pada keindahan desain, kenyamanan saat digenggam dan kemampuan kameranya.



Sekalian tes foto-foto sedikit, kebetulan sedang membawa action figure.



Layarnya cukup jernih, nyaman di mata. Hasil fotonya bisa disimak di bawah ini.




Sebagai penggemar fotografi mainan, detil yang ditangkap oleh Honor 7A ini tergolong cukup baik. Hanya masalah warna saja yang cenderung agak pucat, mungkin karena efek pencahayaan di dalam ruangan Ballroom, masih bisa disesuaikan dengan bantuan aplikasi.

Demikian sekilas info dari saya mengenai kehadiran Honor 7A di Indonesia. Untuk ukuran smartphone dengan harga kurang dari 2 juta rupiah, Honor 7A memiliki desain yang sangat menarik, selain tentu saja spesifikasi yang diusungnya, untuk kelas smartphone yang sama.

Sampai jumpa di lain kesempatan, salam kompak persahabatan selalu.