Sejak terakhir gw baca novel Peterpan - original story yang terjemahannya sulit dimengerti oleh gw, akhirnya gw menemukan sebuah buku yang secara kover sangat sederhana, namun desain dan judulnya membuat gw tergerak untuk membacanya. Buku itu berjudul Seven Secrets, terbitan Republika Penerbit.
Pada awal kisahnya, buku ini menceritakan tentang seorang wartawan yang ingin mewawancarai seorang tokoh wanita pengusaha muda yang terbilang sukses di bidang fashion. Saat ini, sang tokoh wanita telah memiliki butik yang cukup ternama dan membawahi banyak pegawai. Ini adalah kali ke-enam sang wartawan mencoba untuk mewawancarainya, setelah 5 kali ditolak dan diundur dengan berbagai alasan. Sampai akhirnya, sang tokoh wanita, yang bernama Vina, terhenyak saat mendengar nama wartawan yang akan mewawancarainya, yaitu Abimanyu. Mendengar nama itu, Vina pun sontak berubah pikiran, dia menyetujui untuk diwawancara.
Saat bertemu di ruang meeting, tempat wawancara dilaksanakan, keduanya pun terkejut. Ternyata benar, mereka saling mengenal di masa lalu, saat keduanya masih sekolah di sebuah SMA. Sekian lama tidak berjumpa, membuat keduanya sedikit canggung dalam berkata-kata. Namun demikian, Abimanyu sebagai seorang wartawan, mampu membuat suasana wawancara menjadi lebih cair.
Pertanyaan demi pertanyaan, dan jawaban atas pertanyaan tersebut, membuat kita sebagai pembaca diajak untuk kembali ke masa muda mereka, maju-mundur alurnya, namun tetap membuat kita tidak mampu melepaskan buku ini sebelum selesai dibaca. Karena ternyata dalam setiap pertanyaan tersebut, tergambar perjuangan keras Vina sebelum sukses menjadi pengusaha seperti sekarang ini. Kesulitan yang pernah menderanya, membuat dirinya tangguh, membentuk mentalnya menjadi kuat, dengan tetap mengingat sang pencipta. Adegan demi adegan terbayang saat membaca kisah perjuangan Vina, bahkan beberapa kali terjadi persilangan saat cerita dihadirkan dalam sudut pandang Abimanyu di masa lalu.
Membaca buku ini, seolah mengingatkan gw akan pentingnya berserahdiri namun tetap ikhtiar dalam berusaha, untuk menemukan jawaban atas segala kesulitan yang sedang dihadapi. Kisah yang disampaikan dalam buku ini sangat menyentuh, membawa perasaan terhanyut dalam setiap kalimatnya. Buku ini memberikan semangat dan motivasi untuk tegar dalam setiap kesulitan dan pantang menyerah dalam mengejar cita-cita.
Bagaimana kisah mereka di akhir cerita? Apakah prasangka keduanya di masa lalu terbukti adanya? Yang penasaran, segera cari buku ini di toko buku langganan..
Tanggal 19 November 2015, menjadi hari yang meriah bagi para peminat smartphone ASUS, karena pada hari tersebut ASUS menggelar sebuah acara bertajuk ZenFestival 2015, yang bertempat di Ballroom Hotel Ritz Carlton, Pacific Place Jakarta.
Tidak seperti biasanya, dimana yang diundang hanya dealer, media dan blogger, kali ini ASUS juga turut mengundang para ZenFans dari komunitas forum ZenTalk.
Pada kesempatan ini, ASUS kembali memperkenalkan varian baru dari smartphone ASUS Zenfone, yaitu ASUS Zenfone 2 Deluxe Special Edition, Zenfone 2 Laser (4G), Zenfone 2 Selfie dan Zenfone Max serta Zenfone Go (di booth demo unit).
Zenfone 2 Deluxe Special Edition
Menjadi smartphone ASUS termahal setakat ini. Kenapa demikian? Sebab smartphone ini hadir dengan prosesor Intel Z3590 berkecepatan 2.5GHz, RAM sebesar 4GB serta kapasitas penyimpanan sebesar 256GB. Selain itu pula, smartphone ini hadir dengan tema ROG yang benar² macho. Kombinasi warna merah hitam metalik, dengan motif ala carbon fiber dan diamond cut yg menjadikannya semakin berkelas.
Dengan kemampuan komputasi tersebut, ibarat kita memiliki komputer canggih di genggaman tangan. Smartphone ini dijual dengan harga Rp. 5.999.000,-
Zenfone 2 Laser (4G)
ASUS kembali memperkenalkan lini Zenfone 2 Laser terbarunya. Lho? Kan sudah ada di pasaran? Lalu apa bedanya? Tenang.. Kali ini Zenfone 2 Laser yang diluncurkan sudah 4G LTE ready, artinya, selamat menikmati kecepatan mobile internet terkencang saat ini. Zenfone 2 Laser hadir dalam 3 varian, 5 inci, 5,5 inci serta 6 inci. Fitur andalan Zenfone 2 Laser ini adalah kecepatan auto-fokusnya yang hanya 0,03 detik saja. Dengan kamera depan 5MP dan kamera belakang 13MP (8MP pada seri 3G), mampu sajikan ketajaman gambar yang menakjubkan. Smartphone ini menggunakan prosesor Qualcomm Snapdragon 410 64-bit berkecepatan 1.2GHz, RAM sebesar 2GB dan kapasitas penyimpanan sebesar 16GB memberikan keseimbangan performa multimedia dengan efisiensi baterai yang mempesona. Harganya? Silakan disimak foto di bawah ini :)
Zenfone 2 Selfie
Seiring kegemaran akan selfie pada banyak orang, ASUS meluncurkan produk yang cukup spesifik target penggunanya, Zenfone 2 Selfie. Kekuatannya jelas ada pada kamera. Kamera depan dan belakangnya memiliki kerapatan 13MP dengan Dual LED Flash serta kemampuan Laser Auto-Focus. Smartphone ini dibekali dengan lensa f 2.2 serta wide-angle 88 derajat, yang memungkinkan lebih banyak orang tercakup dalam sekali potret. PixelMaster 2.0 dengan fitur Beautification menjadikan setiap foto lebih halus, cerah dan indah. Ada 2 varian Zenfone 2 Selfie ini, walaupun keduanya memiliki lebar layar 5,5 inci, dan prosesor Qualcomm Snapdragon 615 Octa-core berkecepatan 1.7GHz, lebih gegas daripada Zenfone 2 Laser, serta RAM sebesar 3GB, namun kapasitas penyimpanannya berbeda sedikit. Untuk informasi spesifikasi dan harga jualnya, silakan disimak foto² di bawah ini.
Zenfone MAX
Apa sih kendala terbesar smartphone saat ini? Ya! Salah satunya adalah daya tahan baterai. Khusus untuk kebutuhan ini, ASUS juga memiliki smartphone berkapasitas baterai yang luar biasa besarnya, Zenfone MAX namanya. Secara spesifikasi, tidak jauh berbeda dengan Zenfone 2 Laser 4G, karena unit ini juga sudah 4G ready, berprosesor Qualcomm Snapdragon 410 Quad-core 64-bit 1,2GHz, RAM sebesar 2GB dan penyimpanan sebesar 16GB. Bahkan kameranya pun sama, 13MP untuk kamera utama, dengan Dual LED Flash serta kemampuan Laser Auto-Focus dan 5MP untuk kamera depan. Namun 1 hal yang membedakannya, yaitu unit ini diperkuat oleh baterai berkapasitas 5000mAh. Apa?!?! 5000?!?! Ya! Dengan kapasitas baterai sebesar ini, smartphone ini diklaim memiliki waktu penggunaan aktif hingga 2 hari tanpa harus mengisi ulang baterainya. Hal ini dipercaya mampu membuat usia baterai menjadi lebih panjang. Selain itu pula, dengan kapasitas sebesar ini, smartphone ini mampu berperan sebagai powerbank bagi unit lain yang membutuhkan daya ekstra. Kira², dengan kemampuan seperti itu, mahal nggak ya? Harga smartphone Zenfone rata² berada di kisaran 3 juta rupiah, tidak termasuk yg kasta monster tentunya. Informasi harga Zenfone MAX dapat dilihat pada foto di bawah ini.
Zenfone Go
Untuk kalangan peminat smartphone ASUS Zenfone dengan anggaran terbatas, ASUS juga memiliki unit yang memang ditujukan untuk kalangan ini, yaitu Zenfone Go. Dengan lebar layar sebesar 5 inci yang diyakini merupakan ukuran yang pas untuk genggaman tangan orang Indonesia, smartphone ini menggunakan prosesor yang berbeda daripada saudara²nya yang lain, yaitu Mediatek MT6850 Quad-core berkecepatan 1.3GHz, dan RAM sebesar 2GB. Hadir dengan 2 varian kapasitas penyimpanan, 8GB dan 16GB, unit ini masing mengusung kemampuan 3G saja. Kamera belakangnya sudah 8MP, Laser Auto-Focus, dan kamera depan 2MP saja. Smartphone ini juga Dual Micro-SIM ready lho. Untuk harga jualnya, hanya Rp. 1.599.000,- untuk yang 8GB, dan 1.699.000,- untuk yang 16GB.
Demikian perjalanan gw hari ini menikmati kemeriahan ASUS ZenFestival 2015. Terima kasih ASUS Indonesia untuk kesempatan yang sudah diberikan, semoga Zenfone makin mengerti kebutuhan pemakainya, dengan senantiasa memberikan fitur² terbaik, namun dengan harga yang tetap merakyat.
Untuk kumpulan foto² selama acara ZenFestival, dapat dilihat pada album di Facebook gw.
Hai semua.. Jumpa lagi di tulisan gw yang ke sekian kalinya.. Bukan kebetulan kalo kemarin gw mendapat kiriman sebuah paket misterius. Penasaran? Hahaha.. Nggak juga kali ya? Kan udah ketahuan dari judulnya :p Anyway, paketnya agak berbeda dari biasanya karena dipacking kayu segala.
Kenapa berbeda? Karena biasanya paketnya cukup dikirim dalam wujud nan sederhana, berbalut plastik anti basah dari expedisi.
Karena penasaran pengen langsung testing, pembungkus langsung gw robek dan nampaklah isi di dalamnya. Tadaaa!!! Sebuah aksesoris dari ASUS berupa ZenFlash.
Pada kemasan depan, di bagian yg gw lingkari, terdapat keterangan bahwa produk ini dikhususkan atau hanya dapat berfungsi pada smartphone ASUS Zenfone 2 series. Pada bagian belakang, nampak keterangan sebagai berikut.
Kemasannya sederhana, tidak berbeda jauh dengan aksesoris ASUS LolliFlash yg beberapa waktu lalu gw review. Dan ketika gw buka, isinya adalah seperti ini.
ASUS ZenFlash dan pelindung karet berwarna biru, 2 lembar manual dan warranty, dan 1 velcro berperekat untuk cadangan.
Karena produk ini hanya kompatibel dengan ASUS Zenfone 2, maka secara singkat gw melakukan testing terhadap ASUS Zenfone 2 Laser juga. Untuk dapat memanfaatkan aksesoris ini, diperlukan aplikasi ZenFlash yang dapat diunduh dari PlayStore™.
Pada ASUS Zenfone 2 Intel, aplikasi ini sudah tersedia, jadi kita tidak perlu mengunduhnya lagi, namun tidak demikian pada ASUS Zenfone 2 Laser.
Cara menggunakannya cukup mudah, pertama lepaskan unit ZenFlash dari sarung karetnya, dalam hal ini, gw punya berwarna biru, lalu coba telusuri dan lepaskan ujung kabel USB. Setelah terlepas, kurang lebih wujudnya seperti berikut ini.
source image : ebay.com
Di bagian belakang ZenFlash, terdapat perekat velcro untuk ditempelkan di bagian belakang unit smartphone.
Berdasarkan referensi peletakan, maka gw coba ikuti apa adanya. ZenFlash gw posisikan di antara tulisan ASUS dan Zenfone. Lalu gw masukkan kepala USB ke port pada smartphone.
Karena aplikasi ZenFlash Camera sudah terpasang, saat kabel USB dihubungkan, maka secara otomatis smartphone akan mendeteksi adanya perangkat ZenFlash, dan menampilkan informasi sebagai berikut.
Perlu diingat bahwa aksesoris ini hanya berfungsi dengan aplikasi ZenFlash Camera. Dan jika kita OK-kan maka selanjutnya aplikasi ZenFlash Camera akan dijalankan.
Sebelum lanjut ke antarmuka aplikasi, muncul peringatan lagi agar selalu melepaskan kabel ZenFlash saat tidak digunakan.
Hal ini mungkin untuk menghindari borosnya baterai (mungkin..) Selain itu, mengingat orang Indonesia kurang suka membaca manual, mungkin hal ini bisa diperhatikan lebih seksama, di bagian Safety Notices.
Penggunaan ZenFlash selama 10x jepretan berturut² dalam tempo 1 menit dapat mengakibatkan kepanasan pada aksesoris. Perlu diingat pula bahwa aksesoris ini menggunakan Xenon Flash yang sangat terang.
Baiklah, lalu seperti apa tampilan saat kita akan mengambil gambar foto dengan menggunakan aplikasi dan aksesoris ZenFlash ini? Secara default, tampilan antarmuka ZenFlash akan nampak seperti di bawah ini.
Pada bagian kiri atas ada pengatur jarak obyek/target dalam satuan meter. Lalu di sisi kiri bawah ada ikon untuk pengaturan dan simbol flash dalam keadaan aktif.
Jika kita sentuh ikon pengaturan, akan muncul pilihan sebagai berikut.
Ada 4 pilihan seting, yaitu senyap, jeda waktu, pengenal wajah dan advanced yg berisikan pilihan untuk setting yg lebih lengkap.
Lalu opsi flash bisa kita matikan/disable jika tidak ingin menggunakan ZenFlash (ini gw gunakan sebagai perbandingan hasil foto kelak).
Selain itu ada pilihan mode di kanan bawah. Jika kita sentuh akan nampak pilihan seperti berikut ini.
Hanya ada 1 pilihan mode saja untuk aplikasi ZenFlash Camera ini, yaitu mode Low Noise.
Baiklah, kita coba untuk ambil 1 foto saja, berkaitan dengan menu yang ada di dalam aplikasi ZenFlash ini #jepret!
Setelah kita mengambil gambar, hasil foto tidak serta-merta disimpan, namun kita diberikan 7 pilihan efek, untuk dipilih salah satunya sebagai hasil final.
OK, konteks menu dalam aplikasi sudah gw bahas, selanjutnya gw akan coba bandingkan hasil foto ZenFlash ini dengan beberapa mode.
Ki-ka : foto tanpa flash, dengan flash bawaan, dengan ZenFlash
Lalu masih dengan posisi ZenFlash di bagian tengah, gw mengambil beberapa foto berikut ini.
Ki - ka : tanpa flash, dengan ZenFlash
Kemudian atas saran seorang kawan, seorang kameramen berpengalaman, gw mengubah posisi ZenFlash menjadi seperti berikut ini.
Dan hasilnya bisa dinikmati dalam rangkaian gambar di bawah ini.
Ki - ka : tanpa flash, dengan ZenFlash
Hasilnya adalah, untuk beberapa obyek, dengan menggunakan ZenFlash, keberadaannya jadi nampak lebih menonjol. Demikian pula dengan foto dengan obyek manusia, skin-tone-nya jadi lebih fresh dan natural.
Kesimpulan yang bisa gw dapat adalah, produk aksesoris ASUS ZenFlash ini merupakan lampu flash yang ringkas, dengan trigger terintegrasi dengan aplikasi ZenFlash Camera, yang mampu memberikan warna yang cerah dan tajam. Cocok untuk digunakan di lingkungan yang kurang cahaya, misalnya foto bersama saat di pesta kebun, aula pertemuan, diskotik dan lain². Jika dibandingkan dengan ASUS LolliFlash, terdapat perbedaan karakteristik dalam penggunaannya. LolliFlash nyaman digunakan untuk memotret obyek² kecil seperti koleksi mainan, perhiasan, dan lain², sedangkan ZenFlash, layaknya lampu flash profesional, lebih sesuai untuk pemotretan dokumentasi dengan kondisi kurang cahaya.
Kekurangan yang gw rasakan adalah, parameter yang digunakan oleh ZenFlash ini adalah jarak terhadap obyek/target, di mana diberikan parameter mulai 0,5 meter sampai 2,5 meter. Di sini kita dituntut untuk mampu menghitung dengan cermat jarak antara kita sebagai fotografer, dan target sebagai obyek yang akan kita foto. Juga shutter response yang lambat :( entah ini apa karena aplikasinya, atau hal lain.
Saran² untuk ASUS ZenFlash ini antara lain :
1. Semoga ke depannya sudah ada fitur otomatis untuk melakukan pengukuran (metering) terhadap obyek dan intensitas cahaya flash yang sesuai (tidak dengan manual meter lagi);
2. Pegangan yang lebih kokoh. Saat ini hanya menggunakan velcro + lem karet yg lambat laun akan kehilangan daya lekatnya. Syukur² pegangannya bisa disetel sudutnya seperti lampu flash manual;
3. Shutter response yang lebih cepat. Termasuk auto-fokus tentunya;
4. 7 pilihan hasil foto sebaiknya dikurangi. Tampilkan yang paling mendekati hasil natural, karena 3 efek terakhir memberikan hasil kebiruan yang gw nggak yakin bakal dipake. Extra efek sudah diakomodir di aplikasi pengolah foto lainnya.
Demikian review gw mengenai ASUS ZenFlash ini. Layak atau tidaknya untuk dimiliki, gw kembalikan ke selera dan gaya pengambilan foto kalian masing². Jika kalian senang berfoto dokumentasi, foto angkatan kelas, sekolah dll, produk aksesoris ini layak untuk dimiliki, namun kurang cocok untuk penggunaan foto hobi/koleksi mainan dan benda² kecil lainnya.
Untuk informasi ketersediaan barang dan harganya, bisa langsung kunjungi online store terpercaya.
Hai hai hai.. Jumpa lagi.. Kali ini gw kedatangan sebuah smartphone baru, masih disegel, yaitu ASUS Zenfone 2 Laser.
Apa sih kira² perbedaan Zenfone 2 Laser ini dengan yang sudah rilis sebelumnya?? Jika kita tengok bagian belakang dari box, akan terdapat informasi sebagai berikut.
Singkat, padat dan mungkin kurang jelas :p Tapi secara umum dapat dikatakan bahwa unit ini berkode ZE500KG berwarna putih, 3G. D,2 gw kurang paham apa maksudnya. Lalu di bawahnya adalah kode prosesor yang digunakan, sebesar 1,2GHz, RAM 2GB dan internal memory/storage sebesar 16GB. Sistem operasi Android, layar 5 inci dan kamera depan/belakang dengan kapasitas 5MP dan 8MP.
Secara tampilan boxnya memang berkesan minimalis, seperti apa kira² isi di dalamnya? Yuk kita tengok.
Sudah kuduga.. Isinya berupa handset unit, kepala charger, kabel USB dan buku manual, tidak jauh berbeda dengan kakaknya, Zenfone 2 generasi awal. Daya kepala chargernya adalah 5V 1A, sayang nggak gw foto karena rabun hasilnya :p
So, Zenfone 2 Laser ini kembali hadir dengan ukuran layar 5 inci, dengan Gorilla Glass 4, yang dipercaya merupakan ukuran terbaik dan pas serta nyaman bagi umumnya tangan orang Indonesia. Terus terang, hal ini gw akui sebagai penulis yang pernah megang langsung. Sepintas memang terasa seperti, ah sama aja.. Ini bedanya secara fisik dari kedua unit tersebut.
Kiri : Zenfone 2 Laser, Kanan : Zenfone 2 Generasi Awal
Bila dibongkar, ternyata baterai bisa dilepas.
Baterai ASUS Zenfone 2 Laser
Dan inilah penampakan bagian belakang dari ASUS Zenfone 2 Laser saat dibuka covernya. Terdapat 2 slot SIM card dan 1 slot kartu memori MicroSD.
Slots
Bila dihidupkan, tampilan ZenUI khas ASUS akan menyapa kalian semua.
Sedangkan tampilan cover belakang, sedikit berbeda.
Di sana tampak, posisi tombol volume khas Zenfone 2, dan di atasnya ada kamera belakang, diapit oleh Dual Color LED Flash dan sensor laser untuk auto-fokus yang lebih cepat.
Saat dihidupkan, Zenfone 2 Laser ini telah dilengkapi dengan ZenUI beserta pre-installed apps di dalamnya.
Tampilan layar ZenUI dan grup apps saat di-expand
Nah, untuk memeriksa spesifikasinya apakah sesuai dengan yang diinformasikan pada box, gw menggunakan aplikasi CPU-Z. OSnya sudah menggunakan Android Lollipop lho..
Informasi yang diberikan CPU-Z per tab
Nampak pada screenshot di atas bahwa smartphone ASUS Zenfone 2 Laser ini sudah menggunakan prosesor Quad-Core dengan resolusi layar HD. Memiliki RAM sebesar 2GB yang membuatnya cukup lega dalam menjalankan aplikasi.
Seperti reviewer pada umumnya, unit ini akan dibenchmark dengan menggunakan aplikasi benchmark standar segala umat, yaitu antutu. Setelah dilakukan benchmarking pada unit ini, diperoleh hasil sebagai berikut.
Karena secara spesifikasi juga jauh berbeda dengan Zenfone 2 yang gw punya, sekilas hasil benchmarknya gw rasa mengkhawatirkan. Hal ini disebabkan saat test 3D pada antutu yang scenenya orang jalan di hutan dan ada api unggun serta kapal berlayar, gerakannya tersendat-sendat cukup parah. Sangat tidak nyaman di mata. (Review Zenfone 2 Intel bisa dibaca di sini) Dari situ gw merasa unit ini agak kurang cocok untuk digunakan bermain game, namun hasilnya mungkin bisa disimak pada video berikut ini.
Zenfone 2 Laser - App Gaming Test
Test yang pertama adalah bermain game Tekken 6 dengan menggunakan emulator PSP setting standar (default).
Seperti dugaan gw, emulator PSP ini cukup berat digunakan untuk bermain game. Sebab pengalaman gw di Zenfone 2 Intel pun demikian. Untuk game Tekken 6 ini kurang nyaman dimainkannya.
Test game kedua adalah game fighting Satria Garuda Bima-X.
Di luar dugaan, game ini sangat lancar dimainkan dalam resolusi tinggi. Tidak ada lag, tidak ada suara pecah.
Test game yang ketiga adalah game arcade Spiderman Unlimited.
Game perpaduan ala temple run dan aksi tonjok/tendang ini pun sangat lancar dimainkannya. Padahal prosesor yang digunakan hanya 1.2GHz dari Qualcomm. Ini menakjubkan buat gw.
Dan setelah memainkan ketiga game tersebut, suhu ASUS Zenfone 2 Laser ini menunjukan angka..
Jauh lebih rendah dibandingkan saat bermain dengan ASUS Zenfone 2 Intel (ya iyalah..).
Selanjutnya gw akan mencoba melakukan tes memutar video film HD (720p dan 1080p) dalam 2 format terpopuler yaitu MP4 dan MKV.
Film yang pertama akan gw putar adalah film animasi yang baru saja tayang secara streaming, yaitu Gundam Iron Blooded Orphans eps 1 yang beresolusi HD720p dan format MP4.
Tampilan pada layar ASUS Zenfone 2 Laser ini sangat jernih dan nyaman di mata. Tidak ada gejala lagging sama sekali. Namun demikian, bagaimana jika film yang diputar jauh lebih besar kapasitasnya??
Film yang kedua adalah Avengers AoU dengan resolusi HD1080p dengan format MKV dan kapasitas file 2.2GB.
Ternyata, ASUS Zenfone 2 Laser ini pun mampu memutar film tersebut dengan sempurna. Lancar jaya tanpa derita. Dan hebatnya lagi, film ini diputar dengan aplikasi Video Player bawaan, bukan aplikasi tambahan. Jempol!!
Sesaat lagi, gw akan share mengenai kamera dari ASUS Zenfone 2 Laser ini.
Sebagai informasi, berikut ini adalah versi software/firmware yang terpasang pada ASUS Zenfone 2 Laser yang sedang gw review.
Ada beberapa pilihan preset mode untuk penggunaan kamera belakang, seperti tampak pada gambar berikut ini.
Ada 18 pilihan preset mode
Adapun detil keterangan tiap mode bisa disimak pada gambar berikut ini.
Pada mode kamera depan, ada beberapa pilihan mode yang hampir sama.
Satu mode yang berbeda adalah Selfie Panorama. Keterangannya adalah sebagai berikut.
Untuk hasil fotonya sangat jernih. Dalam mode Auto, gw sempet ambil beberapa gambar yang mungkin bisa mewakili sejauh mana ASUS Zenfone 2 Laser ini memberikan hasil gambar jepretan kamera yang tertanam didalamnya.
Contoh foto dengan perbedaan titik fokus.
Contoh foto dengan jarak fokus cukup dekat, memunculkan efek bokeh yang cukup renyah untuk ukuran smartphone.
Contoh foto dengan jarak cukup dekat, namun memunculkan detil secara merata.
Contoh foto dengan jarak medium. Hasilnya masih tetap tajam dan menawan.
Perlu diingat, foto² di atas diambil dalam kondisi outdoor dalam mode Auto dengan menggunakan kamera belakang. Nanti, gw akan share pemanfaatan mode² lainnya.
Baiklah, berikutnya gw akan share untuk hasil kamera depannya, karena walaupun pilihan modenya cukup banyak untuk kamera depan, namun secara umum, mode yang akan sering dipakai hanyalah Beautification dan Selfie Panorama.
Pada mode Beautification, kita dapat memilih beberapa setting sebelum mengambil foto. Secara umum, tampilannya adalah sebagai berikut.
Beberapa setting yang mungkin untuk disesuaikan adalah warna perona pipi, penghalus kulit, warna kulit wajah, efek pada mata dan penirus pipi. Berikut ini adalah hasil fotonya.
Mode ini umumnya banyak dipakai oleh para wanita yang memang secara alami menyukai selfie, namun tidak sedikit pula di masa kini, para lelaki yang juga unjuk selfie tanpa risih.
Untuk kepentingan review, berikutnya gw akan menunjukkan hasil foto dengan kamera depan dalam mode Selfie Panorama. Mohon maaf sebelumnya jika kurang berkenan :p
Diambil selepas asar, hasil kamera depan cukup jernih dan tajam. Luar biasa.
Selanjutnya, gw akan menampilkan beberapa hasil foto menggunakan beberapa mode dengan kamera belakang. Keterangan mode yang digunakan ada pada caption foto.
Mode Effects
Mode Super Resolution
Mode HDR
Mode Night
Mode Depth of Field
Mode Panorama
Mode Miniature Bulat
Mode Miniature Balok
Selanjutnya adalah mode Smart Remove. Mode ini cukup menarik karena kita dapat menentukan obyek mana yang dihilangkan atau tetap dimunculkan. Silakan disimak beberapa foto di bawah ini, keterangan pada caption.
Ini adalah gambar awal yang tertangkap kamera
Kita dapat menghilangkan obyek yang dilingkari
Dari gambar di atas, gw akan coba memunculkan gambar orang berbaju hijau yang sedang berjalan di trotoar. Hasilnya adalah sebagai berikut.
Hanya bagian orang berjalan kaki saja yang muncul
Mode berikutnya adalah pengambilan gambar bergerak (video) dalam mode Slow Motion. Dapat disimak pada video berikut ini.
Kemudian ada mode Time Lapse, juga dapat disimak pada video berikut ini.
Mode yang terakhir adalah mode manual. Adapun tampilan pada layar saat akan mengambil gambar adalah seperti berikut ini.
Mode ini akan membuat kita lebih advance dalam menentukan setting/konfigurasi pada saat pengambilan gambar foto. Namun khusus mode ini akan gw bahas secara mendetil kelak saat gw menerima ASUS Zenfone Zoom yang memang diperuntukkan bagi peminat fotografi berbasis smartphone #kode ;)
Sebagai informasi, komparasi iseng pengambilan gambar indoor tanpa flash antara ASUS Zenfone 2 Intel vs ASUS Zenfone 2 Laser.
Kiri : Intel Kanan : Laser
Kiri : Intel Kanan : Laser
Untuk dapat melihat perbedaan hasil foto dari kamera ASUS Zenfone 2 Intel dan ASUS Zenfone 2 Laser, silakan kunjungi laman berikut ini :
Demikian review gw mengenai ASUS Zenfone 2 Laser ini, impresi gw pada umumnya adalah produk ini layak untuk dimiliki karena dengan harga yang terjangkau, namun kemampuannya tidak dapat dipandang sebelah mata, utamanya untuk mendukung aktifitas kita sehari². Dan khususnya pada kemampuan kamera, Zenfone 2 Laser ini memiliki kemampuan fokus pada target jauh lebih cepat dan hasil foto yang lebih jernih dibandingkan dengan kakaknya, Zenfone 2 Intel. Terima kasih atas perhatian pembaca yang budiman, sampai jumpa lagi kelak di tulisan gw yang lain.