Liburan Telah Usai, Saatnya Kembali ke Jakarta


Enggak terasa 10 hari sudah kami berada di kota Jember, kota kelahiranku, tempatku tumbuh dari bayi hingga lulus SMA. Sebagai pekerja kantoran di ibukota, mau tidak mau, suka tidak suka, aku mesti kembali ke sana. Mengumpulkan rejeki, sedikit demi sedikit, untuk memenuhi kebutuhan hidup yang makin hari makin luar biasa.

Hari terakhir di Jember. Pagi setelah packing barang-barang bawaan kami ke dalam koper dan juga oleh-oleh yang akan kami bawa ke Jakarta, kami masukan ke dalam mobil, kami berangkat menuju RS Bina Sehat, tempat di mana cucu paling bontot, ponakanku yang lelaki, si gundul ganteng Hafiz dirawat. Ya, perkiraan bahwa Hafiz bisa pulang lebih cepat, sedikit meleset karena kondisinya masih perlu dipantau walau menunjukkan perkembangan membaik. Kami berada di RS hingga kurang lebih pukul 10, jadwal keberangkatan kereta menuju Surabaya pukul 12 siang.

Dari RS, kami menuju toko roti milik kawan SMP saya, Cangkingan Bakery, untuk membeli beberapa camilan untuk di perjalanan. Dan ternyata, di tengah perjalanan menuju toko roti teman tersebut, terhampar sawah menghijau di sisi kanan jalan. Ai yang jarang melihat sawah, langsung kami ajak untuk berfoto sejenak di sana, sebagai kenang-kenangan libur lebaran kali ini.


Sampai di lokasi, ternyata rotinya masih dalam proses pengembangan, jadi belum ada yang bisa kami beli. Namun ada brownies kering yang bisa kami dapatkan untuk bekal cemilan di perjalanan. Alhamdulillah. Sayangnya, saking senangnya di sana, kami lupa foto-foto. Hehehe.. Dari toko roti Cangkingan kami segera menuju langsung ke stasiun kereta Kota Jember.


Karena kalau di Jember, kemana-mana terasa dekat, maka perjalanan tadi pun ditempuh dalam waktu singkat. Alhasil, kami tiba jauh sebelum keretanya datang.


Dan benar saja, nggak lama kemudian, adikku beserta keluarganya menyusul hadir di stasiun ini. Mereka akan bertolak ke Bandung, sama-sama via Surabaya Gubeng.


Dan nggak lama setelah itu, Mas Dadang, owner toko roti Cangkingan Bakery juga menyusul hadir di stasiun. Rupanya dia mengantarkan kakaknya juga yang akan kembali ke rutinitas hariannya.

Waktunya berangkat menuju Surabaya, kami pun berpamitan pada orangtua kami, mohon restu agar kami semua sehat selamat di perjalanan. Sungguh berat sesungguhnya meninggalkan mereka di sana.

Di perjalanan menuju Surabaya, kami sekeluarga masih berada dalam satu gerbong yang sama. Dan selama di perjalanan, kami tak henti-hentinya memakan bekal cemilan yang kami bawa.


Ada cemilan kopi berbalut coklat dengan 2 varian rasa. Koppa namanya. Ini cocok buat yang nggak mau ngantuk, karena biji kopinya asli. Selain itu kami juga membuka brownies kering yang kami beli dari toko roti Cangkingan Bakery.


Sampai juga di Stasiun Surabaya Gubeng. Kereta yang akan membawa kami ke Jakarta masih lama, masih ada waktu yang cukup luang untuk sekadar mengisi waktu.


Selama menunggu, anak-anak masih bisa bermain dengan saudara sepupunya, anak dari adikku yang laki-laki, yang akan pulang menuju kota Bandung. Jika bosan pun, Ai biasanya akan minta nonton film dari hape Wiko View kesayangannya, sedangkan si kakak, Khansa, menonton boyband Korea dari hape Zenfone 3 Max, bekas review saya beberapa waktu yang lalu.

Nah, perjalanan dari Surabaya ke Jakarta ini yang bikin kami sedikit gusar, karena dari 4 tiket yang kami pegang, terpaksa terpisah 1 gerbong tempat duduknya. Saya bersama Ai, dan Khansa bersama mamanya. Mereka berada di gerbong 6, sedangkan kami berada di gerbong 7. Awalnya saya sempat kuatir dengan Ai, karena biasanya dia tidur bersama mamanya. Namun ternyata kekuatiran saya tidak terbukti, walau pun Ai baru bisa tertidur menjelang pukul 10 malam.


Setelah sekian lama menahan diri untuk tidak ngopi, akhirnya saya memberanikan diri untuk memesan segelas cappucino dari mbak dan mas restorasi yang berkeliling menjajakan dagangannya. Alhamdulilah, kopinya enak, sepadan dengan harganya. Apalagi emang beneran kangen ngopi yang bener-bener kopi (kalo Koppa kan bentuknya seperti permen).


Karena Ai sudah tidur, selepas menghabiskan segelas kopi cappuccino yang saya beli barusan, saya pun ikutan memejamkan mata, supaya besok pagi punya tenaga ekstra.

Keesokan paginya, kami sudah terbangun. Saya menghubungi istri yang berada di gerbong depan, supaya menghubungi saya jika sudah melewati Stasiun Jatinegara. Biasanya, banyak yang turun di Stasiun Jatinegara sehingga saya bisa membawa Ai dan beberapa barang bawaan ke gerbong 6, berkumpul dengan si kakak dan mamanya. Alhamdulillah, sesuai rencana. Ada bangku yang kosong selepas Stasiun Jatinegara, sehingga kami pun bisa berangsur-angsur pindah ke gerbong depan.

Sesampainya di Stasiun Gambir, kami sudah dijemput oleh adik ipar bersama drivernya. Alhamdulillah, libur lebaran kali ini berjalan lancar. Semoga bisa segera kembali ke sana lagi, aamiin.

Demikian kisah saya selama mudik lebaran kemarin, sampai jumpa lagi di kisah saya berikutnya, salam kompak persahabatan selalu.

(Selesai)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Story] Waspada Memilih Sekolah Dasar (Swasta)!

[Story] Pindah Sekolah Anak SD, Sulitkah?

Pengalaman Pribadi bersama Si Mungil Meizu M5c