ASUS Rilis ZenBook S UX392 dan ZenBook Flip UX362, UltraBook 13 Inci Paling Tipis dan Ringkas

Beberapa hari lalu, ASUS Indonesia kembali meluncurkan dua ultrabook premium mereka dari seri ZenBook. Tak tanggung-tanggung, dua orang...

[Story] Waspada Memilih Sekolah Dasar (Swasta)!

Pernahkah kalian para orangtua merasa aneh terhadap perkembangan intelegensi dan akademis anak² kita? Yang mana sebelumnya kita yakin bahwa anak² kita memiliki perkembangan yang bagus dan baik² saja?
Gw pernah! Dan inilah cerita gw..


Khansa, anak gw yg pertama, sejak lulus TK masuk sekolah SDIT di lingkungan dekat rumah kami. Selama 3 tahun berjalan, gw pikir semuanya berjalan normal dan lancar. Ada sih kendala akademis, tapi berdasarkan informasi saat itu bukan masalah besar buat anak gw, masih bisa ngejarlah. Sampai pada suatu ketika, karena satu dan banyak hal, gw terpaksa harus memindahkan sekolah anak gw dari SDIT ke SD Negeri.

Awalnya gw pikir wajar, anak gw kesulitan dalam beradaptasi di lingkungan sekolah negeri, karena perbedaan cara ajar dll. Tapi setelah sekian bulan berjalan, gw merasa kaget-sekaget-kagetnya, karena ternyata tingkat pemahaman anak gw terhadap materi pelajaran sangatlah rendah. Setelah gw telusuri lebih jauh, ternyata perbedaan pola ajar di SDITlah yang menyebabkan semua ini terjadi. Di sekolah swasta, anak murid serba dilayani sampai bisa mengerjakan suatu hal, tanpa mempedulikan sebetulnya anak itu sudah memahami persoalannya atau belum. Gap inilah yang kemudian muncul akibat perbedaan pola ajar. Gw itu produk sekolah negeri, gak belajar, ya gak tau. Guru pun ngasih tau hanya kail, bukan umpan, bukan pula ikan. Gw merasa terkecoh selama menyekolahkan anak gw di sekolah swasta, mengingat laporan tiap rapotan menyebutkan perkembangan anak gw baik² saja. Dan sekaranglah hasilnya baru terungkap.


Namanya sekolah negeri, pe'er atau tugas itu bejibun banyaknya. Dan semua tugas tersebut ada tenggat waktunya, kapan mesti dikumpulkan. Dulu waktu anak gw sekolah swasta, gak ada namanya pe'er atau tugas dikerjakan di rumah. Perbedaan ini menyebabkan anak gw gak bisa melakukan manajemen waktu dengan baik. Sampai sekarang hal ini masih jadi problem di rumah kami. Karena tidak ada tugas/pe'er menyebabkan anak murid jadi kurang minat membaca, karena setiap soalan yang diberikan, jika murid tidak paham, guru akan memberikan pendampingan terhadap sang anak, sampai si anak bisa menjawab soalan tersebut berdasarkan logikanya. Alhasil, si anak bisa kasih jawaban tebakan, jika benar, guru bilang iya, jika tidak, guru bilang bukan itu, dan si anak bisa kasih jawaban lain yg kira² sesuai, sampai akhirnya menjadi jawaban yang benar #cmiiw 

Malas membaca! Mungkin itu yang terjadi pada beberapa murid sekolah swasta belakangan ini, karena posisi murid yang seolah² lebih tinggi daripada guru, sehingga guru terkesan harus memberikan pelayanan pendidikan agar sang murid bisa memberikan jawaban yang benar terhadap suatu soalan. Bukan mencari sendiri jawaban atas suatu soalan tersebut. Ini benar² terjadi kawan²!

Di lain pihak, gw bersyukur karena memindahkan anak gw saat kenaikan kelas 4 yang lalu.. Gak kebayang kalo seandainya gw biarkan anak gw sekolah di sana sampai lulus dan masuk SMP Negeri. Berat! Sangat berat adaptasi yang harus dilakukan anak gw untuk mengejar ketertinggalannya terhadap kemampuan memahami bacaan dan mencari solusi/jawaban melalui bacaan selama 6 tahun sekolah di sana. 

Di sini gw hanya sekedar menceritakan apa yg tengah gw alami bersama anak gw, bukan mendiskreditkan institusi pendidikan tertentu. Gw yakin, masih ada institusi pendidikan swasta lain yang benar² menghasilkan generasi yang kritis dan gemar membaca. Gw hanya sekedar sharing, bahwa mungkin yg gw alami ini, ada juga rekan² orangtua lain yg mengalaminya.. Gw berharap bisa sharing cara, bagaimana mengejar ketertinggalan ini dan menaklukkan masalahnya, sekian.

Wassalam, orangtua yang sedang tertekan karena urusan pendidikan anaknya sendiri.

14 komentar:

  1. Sebagai guru salah satu sekolah IT, saya juga merasakan hal yang sama seperti bapak -dari sudut pandang guru-. Terkadang jadi dilema sih, antara idealisme guru dengan kebijakan (kurikulum) sekolah yang nggak ketemu. Belum lagi tuntutan ortu yang macem-macem. Thanks sharingnya ya pak, bisa jadi bahan evaluasi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Bu Guru. Awalnya saya pun merasa perkembangan anak saya baik-baik saja. Hal ini baru diketahui setelah si anak pindah ke sekolah negeri, dengan metode pendidikan yang mungkin berbeda. Dan dari situ anak bercerita, perbedaan saat dia sekolah di SDIT dengan di SD Negeri saat itu.. Sekarang alhamdulillah, anak saya sudah SMP, setelah perjuangannya bisa memahami setiap mata pelajaran di sekolah barunya, dengan metode yang dia rasakan berbeda. Semoga bisa menjadi evaluasi yang positif, demi kemajuan anak didik, generasi bangsa.. aamiin..

      Hapus
  2. Mohon maaf mang jika salah, kayanya judulnya perlu di edit biar tidak berkesan atau memancing orang untuk pro atau kontra.. misal dalam kurangnya (swasta maupun negeri).. piss.. jangan sampai ada yg salah paham, apalagi pahamnya salah.. :)

    BalasHapus
  3. Ups salah ketik, kurangnya=kurungya

    BalasHapus
  4. Sangat bermanfaat bagi saya yang akan memasukan anak ke SD, namun harus dipahami perna orangtua juga sangat penting bagi perkembangan anak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul! orangtua harus aktif juga dalam komunikasi dengan pihak sekolah, khususnya guru wali kelas..

      Hapus
  5. masf cuman mau komen masalah gratis atau berbsyar. dilauar permadalahan otang tua harus mengeluarkan uang atau tifak, guru tetap di gaji kok, karena salah satu motif ekonomi. bahkan tingkat kesejahteraan guru negeri saat ini (khususnya DKI) tergolong sangat sejahtera, dengan harapan mengurangi pungli dan memotivasi kinerja mereka. jadi menurut saya agak bias kalo disebut gratis sebagai salah satu alasan perbedaan. kalopun ada mungkin hanya oknum dan saya rasa hal demikian juga dapat terjadi di setiap institusi baik berbayar maupun gratis. yang lebih tepat dibahas adalah kurikulum dan metode prngajaran. saat ini sekolah negeri sudah menerapkan kurtilas yang sangat jauh berbeda dari pendidikan kita (kami) jaman then. hal tersebut membuktikan bahwa kirikulum pun sudah mengalami perkembangan, walopun mungkin dirada masih kurang optimal, terlebih jika trnaga pengajar yang sudah mendekati usia pensiun dan tidak mau "mengupdate" ilmunya. saran dan masukan sangat dibutuhkan dalam sistrm pendidikan kita, makanya dibuat komite. unyuk swasta mungkin akan cepat direspon namun untuk negri akan kesulitan terkait kendala birokrasi. pada intinya semua sedang berubah, semoga menuju kearah yg lebih baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya kenal beberapa guru swasta yang baik mengajarnya.. dan saat ini mereka hijrah ke negeri entah untuk alasan apa.. saya juga mengenal seorang guru honorer di sdn tempat anak saya yang pertama sekolah dulu.. dan hingga kini masih mengajar anak didiknya dengan hati.. salut untuk mereka para guru yang berdedikasi mengajar dan mendidik anak-anak kita dengan upaya terbaik mereka, di mana pun mereka berada..

      Hapus
  6. Terjawab sudah , mungkin memang anak2 lulusan SDIT terbiasa dilayani, sehingga ketika lulus menjadi kaget jika sekolah di SMP negeri. Mungkin ini salah satu penyebab anak saya memiliki keinginan baca yg rendah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin tidak semua demikian.. tapi pengalaman kita ada kemiripan..

      Hapus
  7. Wah bagus banget infonya bun, salam kenal dan jangan lupa untuk daftarin juga dan lihat info terbaru tentang smp swasta di jakarta selatan di website kami ya.

    BalasHapus
  8. Sangat bermanfaat buat saya yg lagi mempertimbangkan mau sekolahin anak....tp blm nemu jugašŸ˜…

    BalasHapus
    Balasan
    1. mesti cari informasi sebanyak-banyaknya.. bisa dengan sowan ke sekolah yang diinginkan, sembari ngobrol dengan wali kelas/orangtua murid yang mungkin sedang menunggu/menjemput putra-putrinya di sekolah tersebut. yang jelas, dinamika pendidik di sekolah juga mesti diperhatikan. guru favorit anak-anak misalnya, kadang beda tahun ajaran, sudah pindah ke sekolah lain.

      Hapus