Antara Basket, Cangkruk dan Nasi Goreng


Waktu di Jember, adikku sempat janjian mau sparring dengan tim basket profesional kota Jember. Tim yang dibentuk oleh adikku dan teman-temannya bernama Sketsa, singkatan dari Basket Smasa. Ya, mereka adalah tim basket SMA Satu, terbaik di jamannya.


Jangan tanyakan perbedaan skor yang terjadi, karena tim yang bermain dengan semangat mencari nafkah, akan berbeda dengan tim yang bermain dengan semangat mencari keringat.

Setelah menonton adikku dan timnya bermain, saya dan adik ipar sekeluarga segera menuju ke lokasi cangkruk, di mana teman-teman masa sekolah dulu berkumpul. Di sebuah warung nasi goreng yang dikelola Cak Agus, teman SMP saya dulu. Lokasinya nggak jauh dari RS. Bina Sehat, sepertinya lokasi yang cocok untuk penunggu pasien saat kelaparan di malam hari.


Nasi goreng yang dijual Cak Agus tergolong spesial karena menggunakan ati di dalamnya. Khusus permintaan saya, dikasih potongan pete. Nasi goreng Cak Agus ini bumbunya terasa sekali, bahkan istri saya yang seorang Chef juga mengakui jika nasi goreng Cak Agus ini enak. Harganya? Menurut informasi yang valid, per porsinya dihargai senilai 12 ribu rupiah saja. Sangat murah untuk citarasa yang berkelas, walau lokasinya di pinggir jalan. Beda sama nasi goreng gerobak di kawasan bisnis di Jakarta yang rasanya kadang nggak sesuai harapan.

Abis makan sambil ngobrol bersama teman-teman, saya pamit karena keesokan harinya, mau diajak ke pantai Payangan. Sampai jumpa di acara reuni, teman-teman..


Lokasi pantai Payangan kurang lebih sejauh 33 kilometer dari pusat kota Jember.


Waktu tempuh kami kurang lebih selama setengah jam saja. Kami berangkat dengan 2 mobil karena membawa 3 keluarga, termasuk Mbah Akung yang kepengen ikutan. Sampai di sana, mobil diparkir di tempat parkir khusus, lalu kami berjalan menuju pantai, tepatnya pantai sebelah bukit Domba.


Walau sekilas nampak tenang, namun ombak di pantai ini terkadang menyapu jauh hingga ke daratan. Bahkan dalam satu kesempatan, sebuah ombak yang kencang menyapu pantai, hingga ponakan kami yang kecil terhempas dan gelagepan. Beruntung, masih bisa diselamatkan. Akibat kejadian tersebut, kami segera berganti rencana, mendaki bukit Domba untuk melihat pantai dari ketinggian.


Untuk bisa menaiki bukit ini, kita dikenakan biaya 5000 rupiah per orang. Kami rombongan ber-8. Bocah-bocah bersemangat tinggi mendaki hingga ke puncak, tanpa melihat tanda panah kemana arah mesti dilalui. Alhasil, kami tersasar ke sebuah bukit yang di puncaknya ada makamnya.


Bukan puncak bukit ini yang kami maksud. Akhirnya kami turun lagi, dan mencari jalan ke bukit yang kami tuju, yaitu bukit yang berada paling ujung di dekat pantai. Setelah berjalan menuruni lereng dan kemudian naik lagi, akhirnya kami sampai juga di bukit tujuan.


Di sini anginnya kencang sekali. Rasanya seperti doyong mau jatuh. Tapi memang pemandangannya super sekali, indah tiada tara. Apalagi kami datang persis hari terakhir puasa, panas dan keringnya tenggorokan tiada kami rasakan lagi. Apalagi, tempatnya masih tergolong sepi karena wisatawan belum banyak hadir di sini.


Untung di atas bukit, ada gubuk yang bisa digunakan untuk berteduh. Jadi walau panas, angin yang kencang membuat kami tidak merasa kepanasan, bahkan cenderung rawan masuk angin.


Untuk jalur turun, dibedakan dengan jalur naik. Mungkin supaya nggak terjadi kemacetan, mengingat beberapa tanjakan terasa sangat terjal dan curam. Kerennya lagi, tangga untuk jalur turun diberi warna-warni sehingga nampak berbeda dan menarik.





Di bagian bawah, setelah kita turun, jika kita belok ke kanan, kembali ke arah pantai, ada goa yang cukup menarik untuk disamperin, namun merinding juga saat ke sana sendirian.


Selesai dari sini, kami segera kembali ke mobil, untuk melanjutkan perjalanan, pulang kembali ke rumah..

(Bersambung..)

Komentar

  1. wah, tangga warna warninya cakep banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, itu pembeda untuk jalan turunnya..

      Hapus
  2. aduh pantainya juga keren
    apalagi bisa liat pemandangan dari atas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wajib naik, cari jalur ke bukit yg paling ujung, dg view lepas pantai. Worth banget..

      Hapus
  3. Nasi gorengnya wangiii... Rasanya jg enak banget.

    Untuk bukit domba, jalur naik turunnya curam sekali... Anak tangganya jg kurang teratur, ada yg terasa licin jg, takut gelundung aja kl kepleset... Untuk keamanan pendakian masih kurang yaa...

    Area pantainya kemarin itu masih gratis yaa, hanya parkir mobil aja di daerah penduduk yg bayar parkir. Hanya aja akses ke pantainya yg rada2 gimana gitu, banyak kembang pasirnya yg bulet2 item gitu... 😄
    Semoga aja tahun2 kedepan dikelola sebagai tempat wisata yg lebih baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin.. tapi so far keindahannya alami.. termasuk bulet bulet itemnya.. wakakakaka

      Hapus
  4. Wah kenapa saya selalu tidak diajak hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini tengah malam, dan awakmu entah di mana..

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Story] Waspada Memilih Sekolah Dasar (Swasta)!

[Story] Pindah Sekolah Anak SD, Sulitkah?

Pengalaman Pribadi bersama Si Mungil Meizu M5c