Jember, Kota Kelahiranku, Tempat Menempuh Ilmu Hingga SMU


Jadi, setelah kami sampai di Jember, kami beristirahat dahulu karena perjalanan yang lumayan jauh, dari Jakarta ke Jember. Anak-anak juga nampak lelah walau gembira. Karena hari itu masih puasa, maka sorenya, Mbah Akung mengajak Ai untuk cari bukaan, yaitu jus buah. Hmmm.. Segarnya..

Oiya, pas baru datang, ternyata saya dapat kiriman paket dari teman SMP yang baru terhubung kembali karena rencana reuni. Ya, saya dan kawan-kawan semasa SMP memang merencanakan untuk mengadakan reuni, yang tergolong cukup besar, setelah tidak berjumpa selama kurang lebih 27 tahun lamanya. Paketnya itu isinya apa ya? Penasaran banget karena orangtuaku juga enggan untuk membukanya, sebelum saya tiba di sana.


Ini dia isinya, yaitu cemilan rempeyek kacang dari Blitar. Terima kasih bu dokter Yiyin. Maafkan bisa saya lupa wajahnya yang mana semasa SMP dulu, karena sekarang jauh berbeda. Selain peyek, masih ada bonusnya juga lho, yaitu bumbu kacang/pecel dengan 2 varian kepedasan.


Seperti biasa, jika saya merencanakan mudik atau liburan ke Jember, saya enggan sekali cepat kembali ke Jakarta. Suasana kampung halaman yang selalu dirindukan, ada di sana.


Karena saya adalah rombongan yang pertama tiba, sedangkan keluarga adik-adik yang lain belum, maka esok harinya kami diajak ke Roxy untuk belanja keperluan Lebaran. Dan yang bikin takjub adalah, belanja segitu banyaknya, total yang mesti dibayarkan nggak seperti di bayangan kami. Jika di Jakarta, taksiran kami sudah keluar 700 ribuan rupiah. Kemarin nggak sampai segitu. Ajib.

Kegiatan kami masih standar saja, nggak banyak keluar rumah, karena saya juga diminta jadi panitia reuni. Keesokan harinya, sekitar pukul 2 siang, saya diminta hadir di rumah salah seorang panitia, utnuk menyeleksi foto-foto dan mentransfer video yang sudah diambil, untuk dijadikan materi video presentasi di acara reuni besok. Masih dari koleksi pribadi yang dimiliki oleh rekan saya saja. Sedangkan untuk materi yang berasal dari seluruh kawan-kawan semasa SMP, dikirim melalui WhatsApp. Bersyukur, koneksi XL Axiata di Jember sekarang sudah jauh lebih baik, sehingga proses kirim dan terima materi dapat dipersingkat.

Menjelang waktu berbuka puasa, kami diajak untuk menuju tempat makan yang sudah direncanakan, sambil niatnya sholat Maghrib di Masjid Al-Muhlisin yang jika dilihat sangat IG-able. Sayang, saat kita lewat di sana, parkiran mobilnya penuh dan tidak memungkinkan untuk singgah. Yupp! May be next time.


Akhirnya, kami langsung meluncur ke sebuah tempat makan khas masakan dari Makassar, yaitu Depot Amalia. Di sini kami memesan beberapa menu yang jadi andalan mereka. Apa saja itu? Ini dia!




Walau tampak sedikit, namun aslinya porsinya banyak. Satu menu saja bisa dikeroyok oleh 2-3 orang. Dan saya termasuk yang kalau buka puasa, cukup minum air saja. Hehehe.. Untuk rasa, makanannya, saya suka dengan semua menu yang disajikan, ada sop konro serta coto Makassar. Di sini, masih ada beberapa rekan lain yang bergabung.


Setelah kelar makan, kami pindah lokasi. Rencana kami adalah menuju alun-alun kota Jember, untuk bertemu dengan rekan blogger di Jember, yaitu mas Faisol. Dapat parkir di depan kantor Bupati Jember, kami berjalan menuju tiang bendera, dan menunggu Faisol di sana. Alhamdulillah, nggak pake lama, Faisol dapat segera ditemukan. Lalu posisi kami pun pindah lagi, yaitu menuju kedai Es Bogel di sebelah Bank Mandiri.


Di kedai, kami memesan es kacang hijau andalan sejak masa kami masih sekolah. Oya, Faisol ini blogger muda di Jember, masih 16 tahun usianya. Dia aslinya Situbondo, namun sekolahnya di Jember. Prestasi menulisnya tergolong baik, bahkan namanya terdengar cukup santer di kalangan blogger ibukota. Daebak!

Nggak lama, teman kami, mbak Nunung pamit duluan. Dia enggan pulang terlalu malam. Sedangkan kami, sisanya, memang seakan ingin menjelajahi malam di tengah alun-alun kota Jember yang sekarang ramai. Kami kembali ke arah masjid Jami' untuk mengambil beberapa foto malam dengan menggunakan smartphone kami masing-masing. Sekalian ngetes ceritanya.



Setelah lelah berdiri, kami melipir ke sudut tempat bermain anak-anak, yang malam itu juga masih ramai oleh orang-orang. Momennya pas banget sama job yang sedang kami dapatkan, promosi koppa. Koppa ini adalah biji kopi yang dibalut dengan coklat, solusi praktis untuk bikin melek. Jeprat-jepret sebutuhnya, kami pun mlipir lagi ke arah warung lesehan. Di bagian sini, ada bangku yang kami rasa cukup IG-able, namun ternyata cahaya lampunya terlalu keras, sehingga apa yang kami bayangkan tidak sesuai dengan kenyataan.


Malam mulai larut, namun tidak mengurangi keramaiannya. Saya yang sengaja ngebolang, tanpa aplikasi transportasi online, segera mencari cara untuk bisa pulang dengan senang. Saya bilang, saya ingin naik becak. Lalu kami segera menuju ke arah SMP 2 Jember. Kata Faisol, di sana banyak tukang becak nongkrong. Kami berjalan melewati Lembaga Pemasyarakatan, dengan pintu besar bertuliskan Pintu Taubat di depannya.


Dan memang benar saja, masih ada tukang becak yang berkumpul menunggu untuk dimanfaatkan. Setelah mendapatkan satu, saya pun berpamitan dengan teman-teman lain, karena mereka berencana memanfaatkan ojek online untuk pulang ke rumah masing-masing.

(bersambung..)

Komentar

  1. Seru yah, ketemu temen lama plus temen baru rasa lama... Keren perjalanannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya dong pastinya.. silaturohim tanpa batas beneran..

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Story] Waspada Memilih Sekolah Dasar (Swasta)!

[Story] Pindah Sekolah Anak SD, Sulitkah?

Pengalaman Pribadi bersama Si Mungil Meizu M5c