[Review] ASUS Zenfone Selfie

Halo semua para pembaca blog ini.. Apa kabar kalian? Semoga senantiasa sehat dan semangat..
Kali ini gw kedatangan sebuah paket yang sedang hangat dibicarakan sejak event ZenFestival 2015 yang lalu. 

Packing kayu standar pengiriman ASUS Indonesia untuk unit reviewnya.

Ya! Sebuah smartphone ASUS Zenfone Selfie! Menurut informasi yang tercantum di box-nya, unit ini menggunakan prosesor berkode MSM8939 yang memiliki kecepatan clock sebesar 1,5GHz, sudah mendukung 4G/LTE, berwarna pink, dengan memori sebesar 3GB serta internal storage sebesar 32GB. Masih menggunakan OS android Lollipop, dengan bentang layar sepanjang 5,5 inci diagonal dan yang spesial lagi, dual kamera dengan spesifikasi yang sama, yaitu 13 MegaPixels. Nanti kita akan cocokkan dengan spesifikasi berdasarkan aplikasi benchmark. Oya, unit yang gw terima ini sudah termasuk kartu SIM dari Mentari, dan sudah 4G ready lho. Dan juga bergaransi resmi dari TAM (Tenang Aku Memakainya) :p

Unboxing
Mari kita bongkar segelnya, dan segera kita puaskan rasa penasaran kita akan unit ini.

Isi dalam paket penjualan Zenfone Selfie.

Seperti halnya unit Zenfone terdahulu, unit ini pun sangat minimalis dalam paket pembeliannya. Hanya ada handset, kabel USB, kepala charger, buku manual dan kartu garansi. Earphone belum menjadi standar kelengkapan dalam penjualan smartphone lini Zenfone. Tapi tak mengapa, itu artinya ASUS konsisten dalam hal yang penting dan utama dalam smartphone adalah handsetnya.

Yuk, kita lanjutkan pengembaraan kita dalam membongkar keistimewaan Zenfone Selfie ini.

Baterai Zenfone Selfie bisa dilepas.
Ternyata, ada yang berbeda saat cover belakang Zenfone Selfie ini dibuka, yaitu baterainya bisa dilepas. Baterai berkapasitas 3000mAh ini diyakini memiliki daya tahan yang cukup untuk menjalankan segala aplikasi yang dibutuhkan oleh user dalam jangka waktu yang wajar. Dan menurut informasinya lagi, baterai ini kompatibel dengan Zenfone 2 Laser. Artinya, stok baterai aman.

Dual Sim-card, dual camera, dual LED Flash.
Kemudian dapat kita pastikan bahwa unit ini mendukung pemanfaatan dua SIM-card, namun gw belum bisa memastikan/mencoba apakah kedua slot ini mendukung 4G, atau hanya slot SIM 1 saja yang bisa digunakan oleh SIM Card 4G/LTE. Jika dirasakan, memori internalnya yang sebesar 32GB masih kurang, unit ini juga menyediakan slot memory card berjenis Micro-SD yang sudah cukup dikenal di kalangan pengguna smartphone. Dan yang membuatnya berbeda dari smartphone lainnya adalah, kamera depannya sejenis dengan kamera belakangnya. 13MP dengan Dual LED-Flash untuk hasil kamera depan yang sama jernihnya dengan kamera belakang. Incredible!

Benchmark
Untuk menguji performa smartphone ini, gw akan menggunakan 2 aplikasi saja, serta 1 aplikasi untuk mengintip spesifikasi teknis di dalamnya.
Pertama², gw akan gunakan aplikasi Antutu yang sudah sangat fenomenal itu, dan berikut ini adalah hasil yang didapatkan oleh Zenfone Selfie.

Hasil tes Antutu Benchmark.
Dapat dilihat bahwa skor Antutu-nya sebesar 30 ribuan. Agak mencengangkan mengingat saat testing kemampuan 3D-nya, smartphone ini agak tersendat² dalam melaksanakan tugasnya. Dari informasi yang ditampilkan oleh aplikasi ini juga, dapat diketahui bahwa unit ini terdeteksi memiliki 8 core (Qualcomm Snapdragon 615) dan GPU Adreno 405.

Kemudian gw akan melakukan uji performa dengan menggunakan aplikasi CamSpeed. Dan hasilnya dapat dilihat di bawah ini.

Hasil tes CamSpeed.
Kemudian untuk mengintip spesifikasinya, gw gunakan aplikasi CPU-Z.

Detil informasi yang ditampilkan oleh aplikasi CPU-Z.
Dapat dilihat di sana, bahwa spesifikasi dari Zenfone Selfie ini cukup gahar di kelasnya. Kenapa? Dengan prosesor 8 inti, RAM 3GB, internal 32GB, layar 5,5 inci Full HD 1080, serta Corning Gorilla Glass 4 untuk kepastian anti gores dan anti sidik jari, unit ini jauh lebih dari cukup untuk mendukung alasan utama kenapa smartphone ini dibuat, yaitu selfie.

PixelMaster 2.0
Sebagai smartphone generasi ke sekian dari lini Zenfone, unit yang mentargetkan user para penggemar foto diri ini, sudah dilengkapi dengan aplikasi PixelMaster versi 2.0 yang memiliki banyak pilihan mode dan fitur. Dan kerennya lagi, jumlah pilihan mode pada kamera depan sama banyaknya dengan mode pada kamera belakang. Ini menjadi spesial karena pada umumnya, fitur mode pada kamera depan biasanya lebih sedikit dan terbatas daripada kamera belakang. Mungkin ini disebabkan karena spesifikasi kamera pada Zenfone Selfie ini identik satu sama lain.


Pilihan mode pada kamera depan.

Secara default, saat kita akan menggunakan kamera depan untuk mengambil gambar, mode yang digunakan adalah Beautification. Di bawah ini, gw akan membandingkan foto selfie yang diambil tanpa bantuan flash, dengan lampu LED, dan dengan flash.


Ki-ka : tanpa flash, dengan lampu LED, dengan flash

Pada gambar di atas, ternyata penggunaan bantuan lampu LED (fungsi senter, bukan flash) mampu memberikan skin-tone yang lebih natural. Simak gambar di bawah ini agar lebih jelas, mode flash yang tersedia khusus untuk Zenfone Selfie.


mode flash yang tersedia pada kamera depan (lingkaran merah)

Berikut ini, gw akan tampilkan perbandingan foto yang diambil dengan kamera belakang dengan foto yang diambil dengan kamera depan.





Rear x Front Camera

Kemudian foto perbandingan antara beberapa mode yang kemungkinan sering dipakai, dalam kondisi indoor vs outdoor.



Beautification

Kemudian gw coba tes untuk mode Depth of Field dalam kondisi indoor dan outdoor.


DoF indoor x outdoor

Lalu gw juga tes untuk mode miniatur, seperti nampak pada gambar di bawah ini.


Miniatur mode
Pada mode ini, entah kenapa warnanya jadi jauh lebih cerah dan tajam, bahkan cenderung over. 

Tidak lupa juga ada mode effects, di mana pada mode ini ada beberapa pilihan instan untuk mengubah color tone maupun menambahkan border. Salah satu contohnya adalah seperti gambar di bawah ini.


Mode FX berbunga²

Dan yang bikin gw terpana, mode manual pun tersedia untuk kamera depannya. Contoh tampilan mode manual saat akan mengambil gambar.


Tampilan mode manual front camera
Pada mode ini, bakalan asik untuk lebih ngulik setingan kameranya. Contoh hasil foto dengan permainan kamera setting bisa ditengok di bawah ini.


Setting manual sedikit di atas normal
Setting manual dengan ISO rendah
Setting manual dengan ISO tinggi
Selain mode di atas, masih ada beberapa mode lainnya lagi yang juga menarik seperti selfie panorama, time-lapse, smart remove dan lain², tapi karena mode itu jarang gw pake dan udah terdapat di jajaran ASUS Zenfone lainnya, maka untuk kali ini gw nggak akan melakukan tes lagi.

Baiklah, itu semua adalah mode pengambilan foto dengan memanfaatkan kamera depan. Selanjutnya gw akan berikan contoh perekaman video dengan menggunakan kamera depan.

Video Recording Sample




Betapa hasil rekam video pada kamera depan pun cukup jernih dan tajam. Bahkan resolusi FullHD pun sanggup dijalaninya. Luar biasa. Zenfone Selfie benar² memberikan solusi bagi pengguna yang harus 'menjual dirinya' untuk kepentingan komersial, seperti public figure, maupun yang sedang trend belakangan ini, yaitu artis Youtube.

Dengan tidak menafikan fungsi utamanya sebagai smartphone narsis, gw akan coba melakukan beberapa tes untuk menjalankan beberapa game yang gw anggap cukup menguras performa. Stay tune..

Gaming Test
Untuk gaming test ini, gw akan pilihkan 3 game yang cukup menarik untuk mengisi waktu. Sudah siap? Silakan nikmati rangkaian video test berikut ini.

Hungry Shark Evolution



Real Racing 3

Warship Battle

Konklusi
Sebagai smartphone yang memiliki kelebihan bagi penyuka foto selfie, smartphone ini juga mumpuni untuk memainkan beberapa games yang memiliki tampilan 3D yang menarik. Selain itu juga, smartphone ini bisa menjadi solusi bagi penggemar fotografi mainan seperti #toysgraphyID maupun #Zifu dengan kemampuan jarak fokus 6cm dari obyek fotonya.

Bagi yang berminat, produk ini bisa didapatkan di toko online resmi ASUS Indonesia. Juga tersedia dalam beberapa pilihan warna yang sesuai dengan kepribadian kita.


Terima kasih.

Bonus!
Temen kantor yang teracuni Zenfone Selfie

[Review] [Buku Cerita] Seven Secrets


Sejak terakhir gw baca novel Peterpan - original story yang terjemahannya sulit dimengerti oleh gw, akhirnya gw menemukan sebuah buku yang secara kover sangat sederhana, namun desain dan judulnya membuat gw tergerak untuk membacanya. Buku itu berjudul Seven Secrets, terbitan Republika Penerbit.

Pada awal kisahnya, buku ini menceritakan tentang seorang wartawan yang ingin mewawancarai seorang tokoh wanita pengusaha muda yang terbilang sukses di bidang fashion. Saat ini, sang tokoh wanita telah memiliki butik yang cukup ternama dan membawahi banyak pegawai. Ini adalah kali ke-enam sang wartawan mencoba untuk mewawancarainya, setelah 5 kali ditolak dan diundur dengan berbagai alasan. Sampai akhirnya, sang tokoh wanita, yang bernama Vina, terhenyak saat mendengar nama wartawan yang akan mewawancarainya, yaitu Abimanyu. Mendengar nama itu, Vina pun sontak berubah pikiran, dia menyetujui untuk diwawancara.

Saat bertemu di ruang meeting, tempat wawancara dilaksanakan, keduanya pun terkejut. Ternyata benar, mereka saling mengenal di masa lalu, saat keduanya masih sekolah di sebuah SMA. Sekian lama tidak berjumpa, membuat keduanya sedikit canggung dalam berkata-kata. Namun demikian, Abimanyu sebagai seorang wartawan, mampu membuat suasana wawancara menjadi lebih cair.

Pertanyaan demi pertanyaan, dan jawaban atas pertanyaan tersebut, membuat kita sebagai pembaca diajak untuk kembali ke masa muda mereka, maju-mundur alurnya, namun tetap membuat kita tidak mampu melepaskan buku ini sebelum selesai dibaca. Karena ternyata dalam setiap pertanyaan tersebut, tergambar perjuangan keras Vina sebelum sukses menjadi pengusaha seperti sekarang ini. Kesulitan yang pernah menderanya, membuat dirinya tangguh, membentuk mentalnya menjadi kuat, dengan tetap mengingat sang pencipta. Adegan demi adegan terbayang saat membaca kisah perjuangan Vina, bahkan beberapa kali terjadi persilangan saat cerita dihadirkan dalam sudut pandang Abimanyu di masa lalu.

Membaca buku ini, seolah mengingatkan gw akan pentingnya berserahdiri namun tetap ikhtiar dalam berusaha, untuk menemukan jawaban atas segala kesulitan yang sedang dihadapi. Kisah yang disampaikan dalam buku ini sangat menyentuh, membawa perasaan terhanyut dalam setiap kalimatnya. Buku ini memberikan semangat dan motivasi untuk tegar dalam setiap kesulitan dan pantang menyerah dalam mengejar cita-cita.

Bagaimana kisah mereka di akhir cerita? Apakah prasangka keduanya di masa lalu terbukti adanya? Yang penasaran, segera cari buku ini di toko buku langganan..

[News] ASUS ZenFestival 2015

Tanggal 19 November 2015, menjadi hari yang meriah bagi para peminat smartphone ASUS, karena pada hari tersebut ASUS menggelar sebuah acara bertajuk ZenFestival 2015, yang bertempat di Ballroom Hotel Ritz Carlton, Pacific Place Jakarta.


Tidak seperti biasanya, dimana yang diundang hanya dealer, media dan blogger, kali ini ASUS juga turut mengundang para ZenFans dari komunitas forum ZenTalk.

Pada kesempatan ini, ASUS kembali memperkenalkan varian baru dari smartphone ASUS Zenfone, yaitu ASUS Zenfone 2 Deluxe Special Edition, Zenfone 2 Laser (4G), Zenfone 2 Selfie dan Zenfone Max serta Zenfone Go (di booth demo unit).

Zenfone 2 Deluxe Special Edition
Menjadi smartphone ASUS termahal setakat ini. Kenapa demikian? Sebab smartphone ini hadir dengan prosesor Intel Z3590 berkecepatan 2.5GHz, RAM sebesar 4GB serta kapasitas penyimpanan sebesar 256GB. Selain itu pula, smartphone ini hadir dengan tema ROG yang benar² macho. Kombinasi warna merah hitam metalik, dengan motif ala carbon fiber dan diamond cut yg menjadikannya semakin berkelas.


Dengan kemampuan komputasi tersebut, ibarat kita memiliki komputer canggih di genggaman tangan. Smartphone ini dijual dengan harga Rp. 5.999.000,-

Zenfone 2 Laser (4G)
ASUS kembali memperkenalkan lini Zenfone 2 Laser terbarunya. Lho? Kan sudah ada di pasaran? Lalu apa bedanya? Tenang.. Kali ini Zenfone 2 Laser yang diluncurkan sudah 4G LTE ready, artinya, selamat menikmati kecepatan mobile internet terkencang saat ini. Zenfone 2 Laser hadir dalam 3 varian, 5 inci, 5,5 inci serta 6 inci. Fitur andalan Zenfone 2 Laser ini adalah kecepatan auto-fokusnya yang hanya 0,03 detik saja. Dengan kamera depan 5MP dan kamera belakang 13MP (8MP pada seri 3G), mampu sajikan ketajaman gambar yang menakjubkan. Smartphone ini menggunakan prosesor Qualcomm Snapdragon 410 64-bit berkecepatan 1.2GHz, RAM sebesar 2GB dan kapasitas penyimpanan sebesar 16GB memberikan keseimbangan performa multimedia dengan efisiensi baterai yang mempesona. Harganya? Silakan disimak foto di bawah ini :)


Zenfone 2 Selfie
Seiring kegemaran akan selfie pada banyak orang, ASUS meluncurkan produk yang cukup spesifik target penggunanya, Zenfone 2 Selfie. Kekuatannya jelas ada pada kamera. Kamera depan dan belakangnya memiliki kerapatan 13MP dengan Dual LED Flash serta kemampuan Laser Auto-Focus. Smartphone ini dibekali dengan lensa f 2.2 serta wide-angle 88 derajat, yang memungkinkan lebih banyak orang tercakup dalam sekali potret. PixelMaster 2.0 dengan fitur Beautification menjadikan setiap foto lebih halus, cerah dan indah. Ada 2 varian Zenfone 2 Selfie ini, walaupun keduanya memiliki lebar layar 5,5 inci, dan prosesor Qualcomm Snapdragon 615 Octa-core berkecepatan 1.7GHz, lebih gegas daripada Zenfone 2 Laser, serta RAM sebesar 3GB, namun kapasitas penyimpanannya berbeda sedikit. Untuk informasi spesifikasi dan harga jualnya, silakan disimak foto² di bawah ini.



Zenfone MAX
Apa sih kendala terbesar smartphone saat ini? Ya! Salah satunya adalah daya tahan baterai. Khusus untuk kebutuhan ini, ASUS juga memiliki smartphone berkapasitas baterai yang luar biasa besarnya, Zenfone MAX namanya. Secara spesifikasi, tidak jauh berbeda dengan Zenfone 2 Laser 4G, karena unit ini juga sudah 4G ready, berprosesor Qualcomm Snapdragon 410 Quad-core 64-bit 1,2GHz, RAM sebesar 2GB dan penyimpanan sebesar 16GB. Bahkan kameranya pun sama, 13MP untuk kamera utama, dengan Dual LED Flash serta kemampuan Laser Auto-Focus dan 5MP untuk kamera depan. Namun 1 hal yang membedakannya, yaitu unit ini diperkuat oleh baterai berkapasitas 5000mAh. Apa?!?! 5000?!?! Ya! Dengan kapasitas baterai sebesar ini, smartphone ini diklaim memiliki waktu penggunaan aktif hingga 2 hari tanpa harus mengisi ulang baterainya. Hal ini dipercaya mampu membuat usia baterai menjadi lebih panjang. Selain itu pula, dengan kapasitas sebesar ini, smartphone ini mampu berperan sebagai powerbank bagi unit lain yang membutuhkan daya ekstra. Kira², dengan kemampuan seperti itu, mahal nggak ya? Harga smartphone Zenfone rata² berada di kisaran 3 juta rupiah, tidak termasuk yg kasta monster tentunya. Informasi harga Zenfone MAX dapat dilihat pada foto di bawah ini.


Zenfone Go
Untuk kalangan peminat smartphone ASUS Zenfone dengan anggaran terbatas, ASUS juga memiliki unit yang memang ditujukan untuk kalangan ini, yaitu Zenfone Go. Dengan lebar layar sebesar 5 inci yang diyakini merupakan ukuran yang pas untuk genggaman tangan orang Indonesia, smartphone ini menggunakan prosesor yang berbeda daripada saudara²nya yang lain, yaitu Mediatek MT6850 Quad-core berkecepatan 1.3GHz, dan RAM sebesar 2GB. Hadir dengan 2 varian kapasitas penyimpanan, 8GB dan 16GB, unit ini masing mengusung kemampuan 3G saja. Kamera belakangnya sudah 8MP, Laser Auto-Focus, dan kamera depan 2MP saja. Smartphone ini juga Dual Micro-SIM ready lho. Untuk harga jualnya, hanya Rp. 1.599.000,- untuk yang 8GB, dan 1.699.000,- untuk yang 16GB.


Demikian perjalanan gw hari ini menikmati kemeriahan ASUS ZenFestival 2015. Terima kasih ASUS Indonesia untuk kesempatan yang sudah diberikan, semoga Zenfone makin mengerti kebutuhan pemakainya, dengan senantiasa memberikan fitur² terbaik, namun dengan harga yang tetap merakyat.

Untuk kumpulan foto² selama acara ZenFestival, dapat dilihat pada album di Facebook gw.



[Review] ASUS ZenFlash (AFLU002)

Hai semua.. Jumpa lagi di tulisan gw yang ke sekian kalinya.. Bukan kebetulan kalo kemarin gw mendapat kiriman sebuah paket misterius. Penasaran? Hahaha.. Nggak juga kali ya? Kan udah ketahuan dari judulnya :p Anyway, paketnya agak berbeda dari biasanya karena dipacking kayu segala.


Kenapa berbeda? Karena biasanya paketnya cukup dikirim dalam wujud nan sederhana, berbalut plastik anti basah dari expedisi.


Karena penasaran pengen langsung testing, pembungkus langsung gw robek dan nampaklah isi di dalamnya. Tadaaa!!! Sebuah aksesoris dari ASUS berupa ZenFlash.


Pada kemasan depan, di bagian yg gw lingkari, terdapat keterangan bahwa produk ini dikhususkan atau hanya dapat berfungsi pada smartphone ASUS Zenfone 2 series. Pada bagian belakang, nampak keterangan sebagai berikut.


Kemasannya sederhana, tidak berbeda jauh dengan aksesoris ASUS LolliFlash yg beberapa waktu lalu gw review. Dan ketika gw buka, isinya adalah seperti ini.


ASUS ZenFlash dan pelindung karet berwarna biru, 2 lembar manual dan warranty, dan 1 velcro berperekat untuk cadangan.

Karena produk ini hanya kompatibel dengan ASUS Zenfone 2, maka secara singkat gw melakukan testing terhadap ASUS Zenfone 2 Laser juga. Untuk dapat memanfaatkan aksesoris ini, diperlukan aplikasi ZenFlash yang dapat diunduh dari PlayStore™.


Pada ASUS Zenfone 2 Intel, aplikasi ini sudah tersedia, jadi kita tidak perlu mengunduhnya lagi, namun tidak demikian pada ASUS Zenfone 2 Laser. 

Cara menggunakannya cukup mudah, pertama lepaskan unit ZenFlash dari sarung karetnya, dalam hal ini, gw punya berwarna biru, lalu coba telusuri dan lepaskan ujung kabel USB. Setelah terlepas, kurang lebih wujudnya seperti berikut ini.
source image : ebay.com
Di bagian belakang ZenFlash, terdapat perekat velcro untuk ditempelkan di bagian belakang unit smartphone. 


Berdasarkan referensi peletakan, maka gw coba ikuti apa adanya. ZenFlash gw posisikan di antara tulisan ASUS dan Zenfone. Lalu gw masukkan kepala USB ke port pada smartphone.


Karena aplikasi ZenFlash Camera sudah terpasang, saat kabel USB dihubungkan, maka secara otomatis smartphone akan mendeteksi adanya perangkat ZenFlash, dan menampilkan informasi sebagai berikut.


Perlu diingat bahwa aksesoris ini hanya berfungsi dengan aplikasi ZenFlash Camera. Dan jika kita OK-kan maka selanjutnya aplikasi ZenFlash Camera akan dijalankan.


Sebelum lanjut ke antarmuka aplikasi, muncul peringatan lagi agar selalu melepaskan kabel ZenFlash saat tidak digunakan.


Hal ini mungkin untuk menghindari borosnya baterai (mungkin..) Selain itu, mengingat orang Indonesia kurang suka membaca manual, mungkin hal ini bisa diperhatikan lebih seksama, di bagian Safety Notices.


Penggunaan ZenFlash selama 10x jepretan berturut² dalam tempo 1 menit dapat mengakibatkan kepanasan pada aksesoris. Perlu diingat pula bahwa aksesoris ini menggunakan Xenon Flash yang sangat terang.

Baiklah, lalu seperti apa tampilan saat kita akan mengambil gambar foto dengan menggunakan aplikasi dan aksesoris ZenFlash ini? Secara default, tampilan antarmuka ZenFlash akan nampak seperti di bawah ini.


Pada bagian kiri atas ada pengatur jarak obyek/target dalam satuan meter. Lalu di sisi kiri bawah ada ikon untuk pengaturan dan simbol flash dalam keadaan aktif.

Jika kita sentuh ikon pengaturan, akan muncul pilihan sebagai berikut.


Ada 4 pilihan seting, yaitu senyap, jeda waktu, pengenal wajah dan advanced yg berisikan pilihan untuk setting yg lebih lengkap.

Lalu opsi flash bisa kita matikan/disable jika tidak ingin menggunakan ZenFlash (ini gw gunakan sebagai perbandingan hasil foto kelak).


Selain itu ada pilihan mode di kanan bawah. Jika kita sentuh akan nampak pilihan seperti berikut ini.


Hanya ada 1 pilihan mode saja untuk aplikasi ZenFlash Camera ini, yaitu mode Low Noise.

Baiklah, kita coba untuk ambil 1 foto saja, berkaitan dengan menu yang ada di dalam aplikasi ZenFlash ini #jepret!


Setelah kita mengambil gambar, hasil foto tidak serta-merta disimpan, namun kita diberikan 7 pilihan efek, untuk dipilih salah satunya sebagai hasil final.

OK, konteks menu dalam aplikasi sudah gw bahas, selanjutnya gw akan coba bandingkan hasil foto ZenFlash ini dengan beberapa mode.

Ki-ka : foto tanpa flash, dengan flash bawaan, dengan ZenFlash
Lalu masih dengan posisi ZenFlash di bagian tengah, gw mengambil beberapa foto berikut ini.

Ki - ka : tanpa flash, dengan ZenFlash
Kemudian atas saran seorang kawan, seorang kameramen berpengalaman, gw mengubah posisi ZenFlash menjadi seperti berikut ini.

Dan hasilnya bisa dinikmati dalam rangkaian gambar di bawah ini.
Ki - ka : tanpa flash, dengan ZenFlash
Hasilnya adalah, untuk beberapa obyek, dengan menggunakan ZenFlash, keberadaannya jadi nampak lebih menonjol. Demikian pula dengan foto dengan obyek manusia, skin-tone-nya jadi lebih fresh dan natural.

Kesimpulan yang bisa gw dapat adalah, produk aksesoris ASUS ZenFlash ini merupakan lampu flash yang ringkas, dengan trigger terintegrasi dengan aplikasi ZenFlash Camera, yang mampu memberikan warna yang cerah dan tajam. Cocok untuk digunakan di lingkungan yang kurang cahaya, misalnya foto bersama saat di pesta kebun, aula pertemuan, diskotik dan lain². Jika dibandingkan dengan ASUS LolliFlash, terdapat perbedaan karakteristik dalam penggunaannya. LolliFlash nyaman digunakan untuk memotret obyek² kecil seperti koleksi mainan, perhiasan, dan lain², sedangkan ZenFlash, layaknya lampu flash profesional, lebih sesuai untuk pemotretan dokumentasi dengan kondisi kurang cahaya.

Kekurangan yang gw rasakan adalah, parameter yang digunakan oleh ZenFlash ini adalah jarak terhadap obyek/target, di mana diberikan parameter mulai 0,5 meter sampai 2,5 meter. Di sini kita dituntut untuk mampu menghitung dengan cermat jarak antara kita sebagai fotografer, dan target sebagai obyek yang akan kita foto. Juga shutter response yang lambat :( entah ini apa karena aplikasinya, atau hal lain.

Saran² untuk ASUS ZenFlash ini antara lain :
1. Semoga ke depannya sudah ada fitur otomatis untuk melakukan pengukuran (metering) terhadap obyek dan intensitas cahaya flash yang sesuai (tidak dengan manual meter lagi);
2. Pegangan yang lebih kokoh. Saat ini hanya menggunakan velcro + lem karet yg lambat laun akan kehilangan daya lekatnya. Syukur² pegangannya bisa disetel sudutnya seperti lampu flash manual;
3. Shutter response yang lebih cepat. Termasuk auto-fokus tentunya;
4. 7 pilihan hasil foto sebaiknya dikurangi. Tampilkan yang paling mendekati hasil natural, karena 3 efek terakhir memberikan hasil kebiruan yang gw nggak yakin bakal dipake. Extra efek sudah diakomodir di aplikasi pengolah foto lainnya.

Demikian review gw mengenai ASUS ZenFlash ini. Layak atau tidaknya untuk dimiliki, gw kembalikan ke selera dan gaya pengambilan foto kalian masing². Jika kalian senang berfoto dokumentasi, foto angkatan kelas, sekolah dll, produk aksesoris ini layak untuk dimiliki, namun kurang cocok untuk penggunaan foto hobi/koleksi mainan dan benda² kecil lainnya.

Untuk informasi ketersediaan barang dan harganya, bisa langsung kunjungi online store terpercaya.

Terima kasih atas waktu dan atensinya. Wassalam.