Good Doctor (2013 Drama Korea)


Beberapa waktu lalu, saya melihat potongan adegan film tentang seorang dokter yang sedang melakukan pertolongan pertama pada seorang anak kecil yang jadi korban kecelakaan di timeline Facebook. Merasa adegan itu menarik, saya pun mencari tahu mengenai judul film tersebut. Ternyata itu adalah adegan dari serial TV Korea alias drakor yang berjudul Good Doctor, yang tayang pada tahun 2013 lalu. Terlambat? Tidak! Saya lebih suka menonton serial yang sudah komplit daripada yang nanggung mesti nunggu tiap minggu. Dan inilah impresi saya setelah menonton drakor Good Doctor.


Serial ini mengisahkan tentang seorang dokter yang mengidap sindrom savant alias autisme, di mana pada serial ini, penderitanya memiliki kekurangan dalam hal komunikasi, namun memiliki kelebihan di saat mempelajari dan mengingat sesuatu. Park Shi On, adalah tokoh sentral dalam drama ini.

Diawali saat dirinya hendak menghadiri ujian kompetensi untuk bisa menjadi dokter jaga di sebuah Rumah Sakit yang dikelola Yayasan Pendidikan Universitas. Namun di tengah perjalanan, dia menemui kasus seorang anak kecil yang mengalami kecelakaan, ketiban papan iklan di sebuah terminal. Sontak Park Shi On melakukan pertolongan pertama, sembari memanfaatkan beberapa benda yang bisa didapatkan di sekitarnya. Sepintas mirip kisah Mac Gyver namun kali ini terjadi di dunia kedokteran.

Karena keterlambatannya, pihak Rumah Sakit awalnya tidak menyetujui untuk merekrut seorang dokter yang memiliki kebutuhan khusus, namun setelah semua kejadian tersebut jelas, pada akhirnya Rumah Sakit setuju untuk merekrut Park Shi On sebagai dokter baru di sana.

Sebagai seorang yang memiliki kebutuhan khusus, tentu saja terjadi pertentangan dan rasa tidak percaya, apakah Park Shi On mampu bersikap dan berlaku layaknya seorang dokter? Awalnya semua menunjukkan rasa tidak suka dan keraguan yang sangat jelas, apalagi dalam satu kasus tes operasi, Park Shi On gagal mengatasi kegugupannya sehingga dokter Kim Do Han yang menjadi ketua tim dokter operasi di mana Park Shi On berada, mengatakan dia tidak layak untuk menjadi seorang ahli bedah.

Beragam konflik terjadi selama serial berlangsung, baik antar sesama dokter yang berbeda departemen, maupun antara pihak Rumah Sakit dengan Manajemen Yayasan. Berbagai tokoh pendukung cerita dengan beragam latar belakang karakternya, diramu menjadi sebuah kisah yang menarik untuk ditonton setiap episodenya. Dan kehadiran Park Shi On yang lugu, lambat laun mampu mengubah atmosfer dan sikap orang-orang di sekitarnya, yang awalnya antipati terhadap dirinya, menjadi lebih ramah dan terbuka. Sungguh aura positif yang luar biasa. 

Masa kecil Park Shi On boleh dibilang kurang beruntung. Ayahnya yang pemarah, sering sekali menyiksa ibu dan dirinya. Selain karena memiliki kekurangan, makin menjadi pula sejak kakaknya tewas karena kecelakaan di gua bekas tambang. Sejak itu, dirinya hidup bersama seorang dokter di desa tersebut, dan diasuh hingga dirinya dewasa dan mampu menjadi dokter seutuhnya. Sedangkan kedua orangtuanya pergi entah kemana. Alasannya apa? Tonton saja dulu biar seru.

Sebagai seorang yang beranjak dewasa, walau dirinya memiliki kebutuhan khusus layaknya anak berusia 10 tahun, dirinya juga merasa ingin dicinta. Bukan sebagai adik, namun sebagai pasangan. Dilema antara rasa tak ingin menyakiti hati dan perasaan pasangannya, menjadikan dirinya memendam rasa sakit di hatinya. Biarlah aku menderita, asalkan dia bahagia, begitu mungkin pikir Park Shi On. Namun semua itu salah. Dalam cinta, ada pengorbanan yang mesti dilakukan, dan itu sangat worth it.

Di serial ini, kelak latar belakang setiap tokoh dan karakternya akan terbuka, mengapa mereka bersikap demikian. Dan itu menjadi sebuah jalinan cerita yang membuat kita bisa memaklumi dengan logika.

Ada dua karakter yang membuat saya kagum, bahkan sampai merasa jika mereka beneran menderita autisme, yaitu Park Shi On dewasa selaku tokoh utama, dan karakter Park Shi On kecil.


Akting mereka di serial ini benar-benar meyakinkan sekali. Dan hal seperti ini jarang/tidak pernah saya temui di shitnetron Indonesia, walau adaptasi dari drama populer di luar negeri sekali pun. Jika seandainya tidak ada adegan Shi On dalam kondisi normal seperti dalam imajinasi dokter Cha, mungkin saya akan menganggap serial ini benar-benar diperankan oleh pengidap autisme. Empat jempol untuk aktornya.

Menurut saya, walau ini serial tv lama, namun saya merekomendasikan untuk menontonnya karena memang benar-benar menarik untuk diikuti. Menurut informasi, drama seri ini juga diadaptasi untuk dibuatkan versi Amerikanya, namun bagi saya, yang original tentu saja lebih punya daya tarik tersendiri.


Sekian ulasan dari saya, sampai jumpa di tulisan saya berikutnya. Salam kompak persahabatan selalu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Story] Waspada Memilih Sekolah Dasar (Swasta)!

[Story] Pindah Sekolah Anak SD, Sulitkah?

Masalah Whiteline pada ASUS Zenfone Zoom S