Realme C15 dengan Baterai 6000mAh dan 18W Quick Charge Jadi Daily Driver Pilihan Iqbaal

Realme sebagai merek smartphone yang membaca kebutuhan pasar, melakukan inovasi dalam menghadirkan smartphone yang dapat memaksimalkan penga...

Bad Boys for Life (Review)


Film ketiga dari pasangan detektif Miami, Marcus dan Mike yang diperankan oleh Martin Lawrence dan Will Smith ini nggak pernah saya duga bakal beneran dibuat. Mengingat film pertama dan keduanya saja cukup jauh dirilis + usia keduanya yang tidak lagi muda. Namun justru di situ konflik internal mereka digali lebih jauh, di mana kekompakan keduanya diuji sampai akhir film nanti.


Cerita diawali dengan adegan kebut-kebutan mobil, di mana Mike dan Marcus berada di dalam mobil sport Porsche milik Mike. Awalnya saya menyangka mereka sedang dalam proses pengejaran penjahat, mengingat banyaknya polisi yang mengiringi. Namun ternyata bukan seperti itu adanya.


Yup! Ternyata Marcus sedang terburu-buru menuju ke rumah sakit karena putrinya melahirkan cucu pertama Marcus. Fix! Marcus sekarang sudah jadi kakek-kakek. Malam harinya, ketika di tengah pesta perayaan, antara lain kenaikan pangkat rekan polisi mereka di Miami, sekaligus syukuran Marcus jadi kakek, Marcus kembali mengemukakan keinginannya untuk pensiun, menikmati hari tua, bersama keluarganya. Sebuah keinginan yang wajar, namun Mike belum bisa menerimanya. Oleh karena itu, di akhir pesta, Mike dan Marcus beradu lari untuk menentukan keinginan siapa yang akan dipenuhi. Jika Marcus menang, maka dia boleh pensiun, jika sebaliknya, maka Marcus tetap jadi pasangan duet Mike di kepolisian Miami.


Namun ternyata saat lomba menjelang berakhir, Mike diberondong tembakan oleh pengendara motor tak dikenal, hingga mesti dilarikan ke rumah sakit. Marcus yang merupakan pasangan duet Mike sejak awal di Miami, tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan dan kesembuhan Mike, hingga akhirnya Marcus bersumpah untuk tidak akan melakukan kekerasan lagi jika Mike selamat. Satu hal yang tidak diketahui oleh Mike.


Di saat yang hampir bersamaan, beberapa tokoh penegak hukum, baik masih aktif dan pensiun, dibunuh secara taktis oleh seseorang. Namun, belum diketahui modusnya apa, dan mengapa Mike juga termasuk yang diincar nyawanya. Hingga suatu hari, Marcus (yang sudah  pensiun) dihubungi oleh mantan informan, bahwa dirinya juga diincar oleh orang yang menembak Mike. Namun Marcus mengatakan bahw dia sudah pensiun dan seharusnya informan tersebut menghubungi Mike. Marcus yang akhirnya terpaksa menghubungi Mike kembali, memberitahukan lokasi informan yang diincar, namun terlambat. Informan tersebut telah tewas dan apesnya, tubuhnya jatuh ke mobil istri Marcus.


Mike pun bergegas mengejar pelakunya dan sempat baku hantam. Di sini, Mike sempat melihat wajah pelakunya, namun karena kalah fisik, Mike tak mampu menahannya. Marcus sempat mencoba menahan pelaku, namun dengan sekali tendang, Marcus pun jatuh terjengkang.

Kematian sang kapten polisi, akhirnya membuat mereka kembali bersatu untuk mengungkap kasus ini. Yah, memang, akhirnya Marcus mengalah dengan catatan, ini yang terakhir kalinya, dan Mike pun menyanggupinya. Untuk memudahkan koordinasi, mereka berdua bekerjasama dengan AMMO (Advanced Miami Metro Operations), satuan khusus di kepolisian Miami yang berisi anak-anak muda dengan berbagai latar belakang dan tentu saja, gawai yang canggih.


Memang awalnya sempat terjadi sedikit konflik akibat gap usia antara duo detektif Mike & Marcus dengan para amggota AMMO, cuma Mike sih yang konflik. Tapi akhirnya, berkat analisa dan pengalaman di lapangan selama bertahun-tahun dari Mike, para anggota AMMO menaruh respek pada Mike. Hasil penyelidikan dari bukti-bukti korban pembunuhan akhirnya mengarah pada satu tersangka bernama Zway Lo, yang kebetulan pernah jadi murid Marcus saat masih di bangku sekolah. Zway Lo adalah tokoh kriminal yang memiliki kemampuan atletik meski badannya besar. Terjadi kejar-kejaran antara Mike & Marcus dengan Zway Lo dengan menggunakan moge. Nyaris berhasil menangkap Zway Lo, tiba-tiba muncullah biang kerok semua kejahatan ini dengan menggunakan helikopter dan bazooka di tangannya.


Mike berhasil mengejar hingga nyaris naik ke helikopter, namun Marcus membantu dengan memberondong helikopter tersebut dengan senapan mesin yang ada di tangannya. Saat itu pula, Mike segera melepaskan pegangannya dari helikopter, setelah mendengar sang villain muda mengatakan sebuah kalimat yang tak asing di telinganya,  "Hasta el fuego," katanya..


Berbekal hape yang dicomot dari Zway Lo, Mike minta tolong salah satu member AMMO untuk meretas dan mencari call-logs dari hape tersebut. Dan hasilnya, mayoritas panggilan mengarah ke sebuah wilayah, Mexico. Berdasarkan insting, Mike pun melakukan pencarian terhadap sebuah nama yang mungkin berkaitan dengan dirinya di masa lalu, Isabel Aretas. Dan akhirnya, sebuah kenyataan pun terbuka di sana.

Marcus yang sebelumnya tidak pernah mengetahui masa lalu dan latar belakang Mike, sedikit demi sedikit akhirnya bisa mengetahui dan memahami, dan bertekad untuk ikut serta dalam menyelesaikan masalah Mike untuk terakhir kalinya. Marcus menemani Mike bertolak ke Mexico untuk menemui Isabel. Dan bukan Marcus namanya jika tidak mengajak serta AMMO secara full-team. Yup! Akhirnya Mike pun setuju, kehadiran AMMO akan memberi ketenangan dalam menjalankan misi ini, katanya.

Lokasi pertemuan ditentukan oleh Isabel, yaitu di Hidalgo Palace, sebuah tempat yang lebih mirip reruntuhan karena lama tidak dihuni. Di sini, akhirnya Mike menemui Isabel dan ngobrol tentang masa lalu, sampai akhirnya Marcus tertangkap. Jelas saja karena tempat itu adalah sarang cartel Aretas yang pastinya dipenuhi oleh tentara-tentara bayaran yang masih setia.


Kehadiran pasukan AMMO di lokasi yang cukup mengagetkan, membuat pertempuran bersenjata pecah di sana. Namun Isabel dan villain muda yang ternyata merupakan putranya, memilih menyingkir dan menuju ke atap, tempat helikopter menunggu mereka. Mike dan Marcus dengan dukungan pasukan AMMO, akhirnya berhasil mengejar keduanya dan bertarung di atas sana, sedangkan pasukan AMMO mesti mundur karena musuh telah habis dan lokasi pertempuran dilalap api.

Di atas, Marcus mesti bertarung dengan Isabel, yang memiliki kemampuan bertarung dengan senjata tajam. Tentu saja, Marcus kewalahan dengan kecepatan Isabel dan mesti menerima beberapa luka akibat tusukan, namun beruntung, Marcus berhasil mengalahkan Isabel dengan cara menjedotkan kepala Isabel ke tiang hingga pingsan.

Sementara Mike mesti berhadapan dengan sang villain muda, Armando namanya. Mike yang penasaran, mengapa Armando begitu dendam padanya, berhasil mengalahkan Armando dengan mencekik lehernya, namun tak dilanjutkan. Armando tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan balik menghajar Mike hingga mlehoy.


Siapa sebenarnya Isabel Aretas dan Armando? Mengapa mereka begitu dendam pada Mike sehingga membunuh orang-orang terdekat Mike? Lalu bagaimana dengan Marcus? Apakah kali ini dia berhasil menikmati masa pensiunnya dengan tenang? Apakah film ini akan jadi akhir dari trilogi film Bad Boys, atau justru jadi awal yang baru?

Menurut saya, film Bad Boys for Life ini berhasil menyajikan cerita dan aksi yang menyenangkan untuk ditonton. Tidak berhubungan dengan 2 film Bad Boys sebelumnya, bahkan justru memberikan pencerahan baru tentang siapa Mike Lowrey sebelumnya. Jokes orangtua vs anak muda juga disampaikan secara luwes. Singkat cerita, film ini keren banget, dan kalian yang suka film aksi, wajib nonton!


Bagaimana film ini menurut kalian? Tuliskan pendapat kalian di kolom komentar ya?
Salam kompak persahabatan selalu,




Tidak ada komentar:

Posting Komentar